logoblog

Cari

Tutup Iklan

Suling Dewa Masyarakat Bayan

Suling Dewa Masyarakat Bayan

Proses Pembuatan Suling Dewa Sebagai Ritual Meminta Hujan di Musim Kemarau             Suling Dewa, dipakai untuk memanggil hujan disaat musim kemarau panjang,

Budaya

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
13 Januari, 2017 21:36:03
Budaya
Komentar: 2
Dibaca: 44746 Kali

Proses Pembuatan Suling Dewa Sebagai Ritual Meminta Hujan di Musim Kemarau

          Suling Dewa, dipakai untuk memanggil hujan disaat musim kemarau panjang, merupakan salah satu ritual budaya masyarakat Bayan. Alunan syahdu dari sebuah suling bambu, itulah Suling Dewa atau Suling Dewe. Begitulah mereka menyebutnya.

            Tidak semua orang dapat meniup suling dewa. Hanya orang-orang yang mempunyai hubungan darah atau keturunan masyarakat Bayan. Namun sayangnya, ritual suling dewa yang kental dengan nuansa Sasak ini, sudah mulail punah.

            Amaq Lokaq, pengantar yang masih memiliki keturunan sesepuh adat Bayan, tengah bersiap hendak menempuh perjalanan jauh memasuki hutan di kaki gunung Rinjani. Mencari bambu untuk dibuat biul atau alat untuk membuat lubang suling. Alat ini, semacam batangan-batangan bambu kecil dan runcing dibagian ujungnya. Dia tidak sendirian, ditemani Inaq Lokaq yang juga keturunan adat Bayan.

            Dua orang kepercayaan masyarakat adat Bayan itu, masing-masing punya tugas sebagai perintis jalan dan penentu batang bambu mana yang cocok untuk dibuat suling. Di tengah perjalanan yang cukup melelahkan itu, mereka sempat duduk singgah di air terjun Sindang Gile. Maksudnya untuk melepas lelah dan dahaga.

            Di tegah perjalanan, kembali mereka menggunakan naluri dan ketajaman penglihatan, mencari batang bambu yang cocok untuk dibuat biul. Hampir dua jam mereka diperjalanan dan akhirnya menemukan bambu yang dicari.

            Bambu yang berdiamter sedang, berukuran sekitar empat senti meter. Bambu pilihan ini tak begitu saja ditebang. Acara ritual digelar lebih dulu, memohon agar diberi keselamatan, dijauhi dari mara bahaya terutama gangguan mahluk jahat. Penginang sebagai sarana dan pelengkap ritual sudah disiapkan.

            Doa ritual tersebut kira-kira seperti begini:

            “Aoq, gaweng kami si ketono sekiranya, kami tutut adat saran tau lokaq, embau biloq jari suling, suling dewa tutut saran tau lokaq gaweq gubug, keang  tungkulang rendok, keang tungkulang bala. Sekuto juluq niat kami aring kena leleq julu jangkandet mudi, leleq mudi jangkandet julu sami....silaq”

            Menjelang sore, mereka kembali ke dusun Senaru dengan membawa potongan bambu untuk selanjutnya disimpan. Pada malam hari, sesepuh Bayan, Amaq Lokaq-Inaq Lokaq mempersiapkan diri untuk mengadakan ritual di rumah adat.

 

Baca Juga :


Ritual dipimpin oleh Amaq Lokaq dengan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar Maqnawimah (peniup suling) diberikan keselamatan. Sesajen berupa daun sirih, pinang dan ketan putih disiapkan sebagai pelengkap ritual. Sesajen yang telah diberi mantera oleh Amaq Lokaq itu, lalu diberikan kepada Maknawimah.

Usai ritual, Maknawimah diperbolehkan mencari bambu yang cocok untuk dijadikan suling dewa. Bambu ini tak bisa langsung ditebang. Si pembuat suling dewa harus melakukan upacara persembahan pada leluhur dan untuk si penunggu rumpun bambu, agar diberi kemudahan dalam memotong bambu. Inilah yang disebut bambu “serero”, bambu pilihan dengan diameter sekitar empat senti meter itu lalu dijemur sampai kering.

Denga alat sederhana berupa pisau, Maknawimah dengan hanya menyerut bambu sepanjang satu meter. Dengan menggunakan biloq yang terbuat dari bambu pula, lubang sulingpun dibuat. Konon, tak sembarang orang membuat suling dewa. Sama halnya dengan peniup suling dewa, haruslah mereka yang memiliki keturunan sesepuh Bayan.

Dalam sekejap mata, suling dewa sudah selesai dibuat. Maknawimah mencoba meniup suling berulang kali, hingga suling menghasilkan suara yang merdu. Konon menurut sesepuh Bayan, suling dewa ini bisa dilantunkan untuk memanggil hujan disaat musim kemarau panjang.

Dimasa lampau, pemimpin adat bersama-sama warga dusun yang lengkap dengan pakaian tradisional, melakukan ritual memohon hujan. Alunan suara suling dewa mengiringi warga dusun menari-nari sembari memanjatkan doa, memohon kepada yang kuasa agar diberi hujan.

Alunan suling dewa menyayat hati, mengiringi doa dan puji-pujian, menjadikan suasana demikian sakral. Sayangnya, ritual suling dewa mulai ditinggalkan masyarakat. Sebuah tradisi yang telah turun temurun selama puluhan tahun dimasa lalu itu, dicoba digali kembali oleh Dinas Pariwisata setempat sebagai aset budaya masyarakat Senaru khususnya. “Ke depan kita ingin bagaimnana dengan berkesenian mereka memperoleh manfaat,” kata Kepala Dinas Pariwisata KLU, Muhadi,SH kepada Kampung Media (KM) beberapa waktu lalu.

Dikatakan Muhadi, kearifan tradisional, termasuk budaya masyarakat lokal yang memiliki nilai-nilai luhur, diharapkan bisa berkembang disatu sisi. Sementara disisi lain, mereka mampu mengangkat harkat melalui budaya yang ada.

Maknawimah, adalah, satu dari dua warga Bayan yang dipercayakan untuk membuat suling dewa dan peniupnya. Lantunan suling menyayat kalbu, suling dewa menggambarkan kepedihan yang dirasakan warga adat Bayan yang tak lagi memiliki generasi penerus peniup suling dewa, si suling legendaris peminta hujan. () -03



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    14 Januari, 2017

    budaya-budaya sasak yang hampir punah patut kita revitalisasikan lagi.untuk jadi aset daerah.


    1. Pangkat Ali

      Pangkat Ali

      14 Januari, 2017

      Perlunya smua elemen pmrintah & msyrkt memotivasi dan mbrikan dukungan penuh.......


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan