logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ciri-ciri Umum Suku Sasak

Ciri-ciri Umum Suku Sasak

Oleh : Lalu Pangkat Ali, S.IP   Kelompok masyarakat yang dikenal sebagai orang Sasak di Lombok, sesungguhnya merupakan campuran dari keturunan etnik Jawa

Budaya

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
22 Desember, 2016 08:30:38
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 74686 Kali

Kelompok masyarakat yang dikenal sebagai orang Sasak di Lombok, sesungguhnya merupakan campuran dari keturunan etnik Jawa sebagai etnik pokok dan beberapa keturunan etnik minor. Secara fisik, orang Sasak berkulit sawo matang dengan tinggi badan sedang. Rambut bervariasi mulai lurus, ikal tetapi tidak umum berambut keriting. Bentuk mata tidak bundar tetapi tidak juga masuk kategori sipit, sebuah perpaduan yang menghasilkan bentuk mata yang indah seperti buah almond. Demikian pula paras muka, sulit dibedakan dengan paras muka ras Melayu dan Jawa.

Jika ditelusuri dari cara berkesenian, khususnya seni suara, pekat sekali terpancar nuansa pilu. Selain mengambil lirik melankolis (tentang kepedihan hidup), tembang-tembang Sasak banyak melantunkan cinta (seperti suka dukanya bercinta), cinta pertama, patah hati, atau spirit hidup tanpa cinta. Lirik lagu-lagu rakyat lainnya ada juga tentang suka cita mengolah lahan pertanian, panen raya, atau menyanjung keindahan alam.

Sementara seni ukir khas Sasak, memunculkan ornamen Sasak letih dengan posisi bertopang dagu. Ornamen lain yang menonjol adalah motif cecak. Binatang ini dipercaya sebagai simbol masyarakat yang masih natural serta dimitoskan sebagai binatang pembawa keberuntungan. Dalam hal pemaknaan terhadap binatang yang sama, tentu saja berbeda-beda antara suku bangsa yang satu dengan suku bangsa yang lain. Cecak misalnya. Di Lombok diberi makna binatang pembawa keberuntungan, natural, tetapi dikalangan salah satu sub etnik Batak di Pulau Samosir, cecak merupakan perlambang kemampuan beradaptasi dengan kondisi alam yang berbeda.

Bagi manusia umumnya, memberi pesan agar setiap orang terampil beradaptasi dimanapun dia hidup dan bermasyarakat. Tafsir yang bisa muncul dari corak yang terbangun pada cara berkesenian suku Sasak yaitu, telah terjadi penderitaan berkepanjangan. Kenyataan itu telah mempengaruhi ekspresi dan produk kesenian yang dihasilkan. Untuk membuktikannya, tentu membutuhkan penelitian yang mendalam.

Dalam berteologi, semangat sufistik yang mengajarkan kerendahan hati, kebersahajaan, egalitarian dengan capaian-capaian hidup yang tidak rumit menjadi cirinya yang lain. Sufistik juga mengajarkan kepada orang Sasak tentang bagaimana  memiliki kesabaran revolosioner. Itulah yang menyebabkan orang Sasak tidak suka menonjolkan diri, tetapi ketika diberi peran dan kesempatan, akan melakukannya dengan baik.

Secara sosial, dapat dilihat pada keseluruhan orang Sasak adalah Muslim. Orang Sasak sangat menjaga agar sholatnya tetap tegak. Apapun yang sedang dikerjakan, bila mendengar panggilan adzan, maka akan bergegas pergi ke tempat masjid-masjid yang sangat banyak bertebaran dan mudah dijangkau. Semangat membangun masjid dikalangan orang Sasak tak ada duanya. Ada pandangan bahwa, membangun masjid merupakan “tiket” untuk melaju ke surga. Sumbangan yang dikeluarkan bagi pembangunan sarana ibadah ini, dipandang sebagai investasi dengan ganjaran “kebun akherat”, begitu kira-kira pemahaman simpel masyarakat dalam perkara mendirikan masjid.

Sumbangan bisa berupa uang, bahan material, keterampilan tenaga bangunan (pertukangan), atau bahkan sumbangan berupa tenaga. Di luar itu, ada tradisi unik dan sangat menarik. Panitia masjid akan menggelar majelis ta’lim dengan mengundang seorang pemuka agama yang  disebut Tuan Guru untuk berda’wah di lokasi masjid yang akan dibangun. Warga akan berbondong-bondong mendatangi lokasi majelis ta’lim sambil setiap orang; tua muda, laki perempuan, membawa bahan material yang dibutuhkan untuk membangun masjid seperti batu kali.

Selesai kegiatan, dipastikan terkumpul bahan material yang cukup banyak. Fenomena gotong royong membangun masjid ini, selain menarik, mestinya pemerintah mencermatinya sebagai gejala yang penting dalam konteks membangun partisipasi masyarakat. Tetapi pemerintah tidak pernah mengelola potensi warga tersebut dengan baik dalam membangun fasilitas atau sektor lain selain masjid. Tak heran jika kemudian, Pulau Lombok dijuluki Pulau Seribu Masjid.

 

Baca Juga :


Kembali pada soal shalat orang Sasak yang terjaga (disiplin), bila tak menemukan masjid atau jaraknya agak jauh, orang Sasak dengan cueknya akan menunaikan sholat di pematang-pematang sawah, di atas seonggok batu, atau di mana saja.

Yang penting bagi mereka adalah, segera menunaikan sholatnya. Itulah sehingga di setiap rumah orang Sasak, selalu akan ditemui “bong” (gerabah berbentuk gentong yang dibuatkan lubang pancuran, yang digunakan untuk berwudu). Dipilihnya peralatan jenis bong ini bukan tanpa alasan. Bong, dimaksudkan untuk menjaga agar air yang digunakan untuk berwudu, dijamin tidak musta’mal, tidak tercemar oleh suatu benda yang najis. Lagi pula, penggunaan gentong air yang diberi pancuran ini, sangat menghemat pemakaian air.

Sebagai muslim yang taat, pergi haji ke tanah suci Makkah al Mukarramah, merupakan tujuan utama dalam hidupnya. Ini juga menjadi ciri lain. Tak heran, jemaah haji asal Lombok, terbilang paling banyak untuk seluruh Indonesia.

Pada konteks pergaulan, orang Sasak bersifat terbuka dan lugu. Dalam soal toleransi dalam bergaul, ada kecenderungan dilakukannya secara berlebihan, Ini terlihat jelas pada pilihan penggunaan (lebih banyak) bahasa Indonesia dalam percakapan antara sesama orang Sasak yang belum saling mengenal. Akibatnya, kaum pendatang tidak merasa perlu mempelajari bahasa Sasak, karena orang Sasak sendiri tidak gencar mendesakkan pemakaian bahasa daerahnya sendiri. Secara mencolok, hal ini terlihat di Kota Mataram yang plural, dimana di toko-toko, bahasa Cina digunakan dengan leluasa sebagai percakapan dagang pemilik toko, kendatipun di situ oda orang Sasak yang sedang berbelanja, dibiarkan saja terbengong-bengong mendengarkan.

Wataknya yang konsisten (Sasak: tindih) merupakan karakter lain orang Sasak. Mereka tidak cukup pandai dalam hal tipu daya. Janjinya dapat dipegang dan pernyataan-pernyataannya tidak mengandung kebohongan, walaupun tanpa berikrar atau bersumpah, karena mereka jarang mau bersumpah, apalagi mau bersumpah atas nama Allah hanya sekedar untuk menegaskan pernyataannya. (L. Pangkat Ali) -03



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan