logoblog

Cari

Tutup Iklan

Makna Simbolis Piranti Tradisi Suku Sasak

Makna Simbolis Piranti Tradisi Suku Sasak

Sesekali kita tentu pernah menghadiri upacara tradisional masyarakat suku Sasak di Lombok. Umpamanya upacara daur hidup cukuran bayi (ngurisan), khitanan (besunat)

Budaya

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
14 Desember, 2016 16:51:44
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 12713 Kali

Sesekali kita tentu pernah menghadiri upacara tradisional masyarakat suku Sasak di Lombok. Umpamanya upacara daur hidup cukuran bayi (ngurisan), khitanan (besunat) maupun pengantin. Ada pula upacara kematian dan upacara agama. Di sana kita sering temukan ada piranti tradisiolal seperti beras kuning, kemenyan, gula kelapa dan lain-lain. Seorang pernah berbisik; ”syirik!”. Benarkah demikian?

            Mari kita coba telusuri filosofi apa sebenarnya pada benda-benda tersebut. Apa filosofi yang lahir dari kearifan rakyat jelata ini sebenarnya. Kita lihat misalnya beberapa saja sebagai contoh di bawah ini.

Beras Kuning.

            Beras kuning yang dicampur dengan bunga setaman dan beberapa uang, biasa dihadirkan pada aneka upacara (ritus) kehidupan. Misalnya pada upacara selamatan rumah, cukuran bayi (ngurisan), khitanan, pengantin dan agama. Berlandaskan pikiran-pikiran kuno yang animistik, dinamistik atau mungkin hinduistik, kita lalu cepat menafsirkan bahwa, benda-benda tersebut semacam umpan atau santunan kepada roh halus agar tidak mengganggu hajat mahluk manusia.

            Benda-benda tersebut di atas semacam korban ritus untuk ruwatan. Hal itu merupakan tebusan kepada para roh pengganggu atau sang kumilit-kumalat untuk membuat mereka menjadi tentram, sehingga tidak bernafsu untuk mengacaukan aktivitas manusia. Dalam kehidupan manusia masa lalu, memang amat mungkin itikad semacam itu pada kalangan masyarakat suku Sasak.

            Ada sesaji-sesaji untuk arwah orang yang telah meninggal dalam bentuk ‘sesaji pelayaran’. Ada pula sesaji untuk hantu pengganggu bumi, penunggu pohon yang akan ditebang atau bukit yang akan digilas. Itikat untuk memberi korban dalam kaitan ritus tersebut, bisa juga terjadi, karena kesalahpahaman atau keawaman pelakunya.

            Sekarang, coba kita lihat sekaligus menyimak apa yang diterangkan oleh para kiai Sasak mengenai piranti upacara beras kuning. Beras kuning dalam tradisi suku Sasak disebut moto seong. Ada gula kelapa, gula merah dan kelapa. Apa makna simbolisnya?

            Beras kuning adalah lambang keagungan, pangkat tinggi dan kedudukan. Beras ditaburkan sebagai peringatan agar, si bayi (umpama pada upacara ngurisan), kelak tidak tergoda atau terhanyut oleh godaan keagungan. Lalu ada pula bunga setaman. Bunga setaman ini memiliki sifat yang harum, memberi kelenaan. Ada pesona yang ada di sana, ada kenikmatan memandang dan mengendusnya.

            Nah, itulah simbol sifat wanita. Ada lagi uang logam. Namun sekarang tak mesti pakai uang logam. Uang kertas pun jadi. Karena uang ini merupakan simbol harta kekayaan. Diharapkan agar anak atau manusia yang sudah diupacarakan itu, tidak perlu terperangkap oleh pesona harta benda semata.

            Gula merah dan kelapa, menghantarkan komposisi warna simbolis warna merah dan putih. Merah adalah warna darah sebagai warna kehidupan. Dan warna putih adalah warna nuftah cikal bakal sang jabang bayi. Dus ajarannya adalah, agar manusia selalu sadar serta ingat akan asal mula kejadiannya. Ingat akan fitrahnya, ingat akan tugas yang diemban sebagai satu-satunya mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini.

 

Baca Juga :


            Konon bumi, langit, samudera luas, gunung dan bintang-bintang, tidak sanggup mengemban amanat Tuhan yang amat berat itu. Namun manusia menyatakan siap memikulnya. Perjanjian gaib dan suci sebelum kita dilahirkan, semuanya tertulis di Laukhil Mahfuz. Demikian tutur para kiyai kita dalam naskah-naskah kuno.

Kemenyan.

            Hampir semua orang sekarang menganggap bahwa, membakar kemenyan sewaktu ada hajat rowahan adalah syirik atau pernbuatan animisme. Penulis sendiri pernah suatu kali dengan sengaja mengamatinya dan mencoba untuk bertanya. Jawabannya seperti begini; “Harum-haruman (diantaranya karena asap kemenyan) adalah sedekah. Memberi bau yang harum itu sunah hukumnya. Sebagai tambahan pula, sebagaimana diketahui secara nyata (bukan hanya teori saja) bahwa, dulu tata cara orang kampung Sasak (petani) itu, berbaur dengan kandang ternak dan unggas. Maka apabila ada hajatan, merupakan hal yang pantas, kalau orang kemudian membakar kemenyan untuk menutupi bau apek dari kandang sapi, kandang kambing atau itik di dekat rumah sang epunya hajat.

            Kesimpulannya, kalau mau pakai minyak pengharum (minyak pender) atau pengharum lainnya, pasti harganya mahal. Nah, bukankah ini merupakan kearifan yang hebat dalam konsep-konsep ketradisionalan kita? Dan apabila kita sudah hidup dalam gedung-gedung mewah dan bersih yang sudah dipel menggunakan bahan pembersih lantai merek terkenal....ya, bakar kemenyan memang jadi tidak mustahil lagi.

Air Kum-Kuman.

            Ada lagi yang namanya air kum-kuman, yaitu air yang diisi dengan bunga setaman. Air ini gunanya untuk membasuh kepala anak yang akan dicukur atau pembasuh tangan orang yang membaca al-quran, hikayat Nabi, lontar dan lain-lain yang diangap sakral.

            Syirikkah ini? Atau kita biarkan bekas tangan orang yang baru saja selesai makan “begibung”, lalu mengelus kepala bayi kita yang akan dicukur? Kita biarkan tangan berbau nikotin tembakau atau rokok pilitan, lalu memegang al-quran atau berzanji? Mana yang lebih arif dengan air kum-kuman itu atau tidak perlu mencuci tangan, sebab itu barang bid’ah? Memang masih banyak lagi benda-benda atau piranti sebagai simbol yang belum kita fahami dan peru dijelaskan. () -03



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan