logoblog

Cari

Tutup Iklan

Menenun Bagi Perempuan Bima

Menenun Bagi Perempuan Bima

Salah satu syarat ketrampilan yang wajib dimiliki oleh gadis Bima untuk melangkah ke mahligai pernikahan adalah ketrampilan MUNA RO MEDI atau

Budaya

alan malingi
Oleh alan malingi
02 Desember, 2016 12:11:29
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 5871 Kali

Salah satu syarat ketrampilan yang wajib dimiliki oleh gadis Bima untuk melangkah ke mahligai pernikahan adalah ketrampilan MUNA RO MEDI atau menenun. Berdasarkan ketentuan adat, setiap wanita yang memasuki usia remaja harus terampil melakukan Muna ro Medi, yang merupakan kegiatan kaum ibu guna meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga. Perintah adat tersebut dipatuhi oleh seluruh wanita Bima  . Sejak usia dini anak-anak perempuan dibimbing dan dilatih menjadi penenun terampil dan berjiwa seni). Bila kelak sudah menjadi ibu rumah tangga mampu meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga.

Keberhasilan kaum wanita dalam meningkatkan mutu dan jumlah hasil tenunannya, memikat hati para pedagang dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka datang ke Bima  selain membeli hasil alam dan bumi, juga untuk membeli hasil tenunan Mbojo seperti Tembe (Sarung), Sambolo (Destar) dan Weri (Ikat pinggang). Sebagai masyarakat Maritim, pada waktu yang bersamaan para pedagang Bima, berlayar ke seluruh Nusantara guna menjual barang dagangannya, termasuk hasil tenunan seperti Tembe, Sambolo dan Weri. Menurut catatan Negarakertagama, sejak jaman Kediri sekitar Abad 12, para pedagang Bima telah menjalin hubungan niaga dengan Jawa. Mereka datang menjual Kuda, hasil bumi dan barang dagangan lainnya. Informasi yang sama dikatakan oleh Tome Pires (Portugis) yang datang ke Bima pada Tahun 1513 M.

Dalam memilih simbol dan gambar untuk dijadikan motif tenunan, para penenun Bima tempo dulu berpedoman pada nilai dan norma adat yang Islami. Sebagai gambaran jati diri atau kepribadian yang taat pada ajaran agamanya. Mereka tidak boleh atau dilarang untuk memilih gambar manusia dan hewan guna dijadikan motif pada tenunannya. Larangan itu mengacu pada Masa Kesultanan (1640-1950), dilatarbelakangi oleh kekhawatiran masyarakat akan kembali ke ajaran agama lama yang percaya bahwa pada gambar manusia dan hewan ada rokh dan kekuatan gaib yang harus disembah. Berdasarkan ketentuan adat, ragam hias yang boleh dijadikan motif adalah motif bunga dan tumbuh-tumbuhan seperti bunga satako(bunga setangkai) yang mengandung makna kehidupan masyarakat yang sejuk damai laksana rangkaian bunga yang sepanjang waktu menbar aroma semerbak bagi lingkungannya., bunga samobo(bunga sekuntum) mengandung makna pengharapan masyarakat, agar para pemakai atau pengguna hasil tenunan memiliki akhlak mulia bagaikan sekuntum bunga beraroma semerbak bagi masyarakat., kakando(rubung) mengandung makna kesabaran dan keuletan dalam menghadapi tantangan, seperti kakando yang mampu tumbuh di tengah-tengah rumpun induknya yang lebat. dan Aruna ( nanas) dengan 99 buah sisik mengandung makna 99 sifat Allah SWT, pencipta alam semesta yang selalu dipuji dan disembah oleh manusia sebagai hambaNya. Sesuai dengan kelemahan dan keterbatasannya, manusia wajib memahami 99 sifat Allah SWT.

Sedangkan motif garis melambangkan Sikap tegas dalam melaksanakan tugas, sikap yang lazim dimiliki oleh masyarakat Maritim. Motif  geometris meliputi Nggusu  Tolu (Segi tiga) merupakan isyarat bahwa kekuasaan tertinggi berada di tangan Allah SWT.  Nggusu Upa(segi empat) Sikap hidup yang terbuka, berkomunikasi dengan kaum pendatang dari berbagai penjuru.,Pado waji (jajaran genjang) Kehidupan manusia berada dalam tiga tingkat, yang pertama berada diatas yang jumlahnya terbatas, dan diatas mereka adalah Allah Yang Maha Tinggi yang dilukiskan dengan sudut lancip. Tingkat kedua berada ditengah, jumlahnya lebih banyak. Dan yang ketiga tingkat bawah, hampir sama dengan golongan atas dan lebih sedikit dibanding golongan menengah.,dan Nggusu Waru ( segi delapan).

 

Baca Juga :


Pada masa lalu, suara alat tenun terdengar di setiap rumah terutama di siang hari. Kampung-kampung yang dulu menjadi sentra tenun adalah di Rabadompu, Ntobo, kampung Bara, Renda, Nata, Donggo Ele di sebelah tenggara teluk maupun di Donggo Ipa di sebelah barat Teluk, di Sape, Wera dan sejumlah kampung di Bima. Kini, suara alat tenun tidak lagi sebanyak dulu. Tetapi masih bisa dijumpai di desa-desa dan di kampung-kampung pinggir kota Bima.

Penulis : Alan Malingi  () -03



 
alan malingi

alan malingi

blogger dan penulis asal Bima-NTB. Kontak : 08123734986-0811390858. Kunjungi juga www.bimasumbawa.com dan www.alanmalingi.wordpress.com.Facebook, WA, Twitter dan Instagram Alan Malingi.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan