logoblog

Cari

Muna, Identitas Wanita Mbojo Dulu dan Sekarang

Muna, Identitas Wanita Mbojo Dulu dan Sekarang

Kerajinan tenun Bima merupakan salah satu produk tekstil tradisional yang dapat ditemukan di banyak desa-desa. Masing-masing desa memiliki ciri dalam teknik pembuatan

Budaya

KM rasanaebarat
Oleh KM rasanaebarat
02 November, 2016 11:31:18
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 18079 Kali

Kerajinan tenun Bima merupakan salah satu produk tekstil tradisional yang dapat ditemukan di banyak desa-desa. Masing-masing desa memiliki ciri dalam teknik pembuatan dan motif. Ciri ini menjadi identitas budaya dari masing-masing sentra kerajinan tenun songket. Salah satu sen­tra produksi te­nun songket di Bima yang dikenal de­ngan ke­kha­san motifnya adalah motif renda.

Motif renda meru­pa­kan salah satu ciri dari ragam keindahan tembe mbojo (sarung). Motif ini dikenal de­ngan kekhasan motif yang dimilkinya sejak masa lampau. Kekhasan motif tersebut diwariskan secara turun temurun se­hingga tetap lestari hingga kini.

Ibu Nur, adalah satu dari sekian ba­nyak perajin tenun di Ntobo, Kota Bima. Dia meli­hat, eksistensi dan kebera­daan tenunan ini di tengah masyarakat sebagai peluang usaha yang sangat bagus dan menjadi andalan ekonomi keluarga, selain membuka warung usaha miliknya.

Sama seperti para pene­nun lainnya, Ibu Nur juga men­dapat keterampilan mene­nun dari keluarga secara turun temurun. Ibu Nur secara rutin memproduksi kain tenun yang dibisa dijualnya ke koperasi setempat. Namun disam­ping menenun, Ibu Nur juga membuka warung sembako di depan rumahnya.

“ Sejak kecil saya diharuskan bisa Muna (menenun) oleh Ibu saya dulu, karena kata Ibu saya bahwa wanita Mbojo (Bima-Dompu) harus bisa Muna. Karena itu adalah identitas kita sebagai wanita Mbojo,” katanya.

Saat ini usaha tenu­nan­nya tersebut memproduksi beragam tenunan dan motif sesuai pesanan pelanggan. Seperti tenunan berupa Weri, Tembe Ngoli, dan beragam motif yang ada mempunyai keunikan ma­sing-masing.

 

Baca Juga :


“untuk menenun kita harus teliti dan bersabar, biar nanti mendapatkan hasil yang baik. Juga dari menenun wanita bisa belajar bersabar dalam proses membuat sarung,” katanya pada KM Rasanae Barat, Selasa (02/11/2016) kemarin.

Selanjutnya Ibu Nur men­jelaskan, untuk meng­hasil­kan tenunan berupa kain yang halus dan bermutu tinggi, membutuhkan waktu pengerjaan lebih kurang 2 minggu hingga 1 bulan karena dalam menenun membutuhkan ketelitian dan kesabaran. tidak heran jika satu buah hasil tenunan dihargai mulai dari Rp.200 ribu hingga Rp. 1 juta.

Dahulu cerita Ibu Nur, bahwa wanita di Ntobo harus bisa Muna dari kecil hingga menikah, dan jika ingin menikah seorang wanita terlebih dahulu harus sudah mahir dalam Muna. Dan yang tidak bisa Muna, sangat malu jika berjalan diluar rumah melihat aktifitas wanita lainnya yang sedang menenun. () -01



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan