logoblog

Cari

Perisean Bukan Sekedar Adu Laga

Perisean Bukan Sekedar Adu Laga

KM. Sukamulia – Siapa yang tidak kenal dengan atraksi budaya masyarakat Sasak yang satu ini, Perisean demikianlah masyarakat Lombok menyebutnya. Atraksi

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
21 Oktober, 2016 19:45:16
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 38485 Kali

KM. Sukamulia – Siapa yang tidak kenal dengan atraksi budaya masyarakat Sasak yang satu ini, Perisean demikianlah masyarakat Lombok menyebutnya. Atraksi budaya yang satu ini merupakan permainan yang cukup berbahaya sehingga harus dimainkan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang itu. Namun perlu diketahui bahwa Perisean bukan sekedar permainan adu kemampuan berlaga dalam arena tetapi di dalamnya terdapat makna dan nilai pilosofis yang begitu luhur dan kental, di dalamnya terdafat kearifan lokal yang perlu untuk terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebagaimana disebutkan di atas, Perisean adalah salah satu atraksi budaya Sasak yang termasuk dalam seni pertarungan (seni beladiri). Perisean dimainkan oleh dua orang petarung yang disebut dengan istilah Pepadu. Permainan Perisean menggunakan properties berupa pemukul yang terbuat dari rotan yang pada bagian ujungnya dilapisi dengan bulatan aspal dengan campuran pecahan beling, alat ini diseut dengan Penjalin. Permainan Perisean dipandu oleh seorang juri yang disebut dengan istilah Pekembar.

Perisean merupakan permainan sudah sejak lama dimainkan oleh masyarakat Sasak Lombok, permainan tersebut terus diwariskan secara turun temurun dan masih lestari hingga saat ini. Menurut keterangan yang kami dapatkan dari beberapa orang tokoh masyarakat Sembalun, pada awalnya Perisean dimainkan sebagai sebuah ritual permohonan hujan sebab itu atraksi budaya tersebut sering diselenggarakan pada saat musim kemarau. Pada perkembangannya, Perisean diselenggarakan sebagai hiburan dan dipentaskan pada waktu peringatan hari-hari besar, seperti hari ulang tahun Negara, ulang tahun daerah hingga ulang tahun desa. Bukan hanya itu, sebagai atraksi budaya yang cukup menarik perhatian khalayak ramai maka Perisean juga diselenggarakan secara komersial dan atraksi budaya yang satu ini cukup digemari oleh wisatawan domestik dan mancanegara.

Mengacu dari keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa Perisean bukan sekedar atraksi adu kemampuan, namun dibalik pelaksanaan kegiatan tersebut terdapat nilai-nilai tradisi adat budaya yang sangat luhur. Di balik atraksi adu ketangkasan bermain stik itu terdapat nilai-nilai luhur yang menyebabkan masyarakat Sasak terus melestarikan budaya tersebut sebagai kearifan lokalnya. Perisean mengandung nilai religuis, nilai toleransi dan sportifitas serta nilai estetika dan ekonomi. Terkait dengan hal itu, berikut kami akan menceritakan penuturkan penuturan mengenai makna dan nilai pelaksanaan atraksi Perisean yang kami dapatkan dari beberapa orang tokoh masyarakat Sembalun.

  1. Nilai Religius pada Perisean: pada dasarnya Perisean dilaksanakan dengan tujuan religious, yakni untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar menganugerahkan rizki berupa hujan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat Lombok biasa menyelenggarakan Perisean pada saat musim kemarau. Secara religious, Perisean merupakan sebuah rituan yang ditujukan untuk memohon turunnya hujan yang berkah. Terkait dengan hal itu, masyarakat Lombok mempercayai bahwa darah para Pepadu (petarung) yang terkucur dapat menarik simpati Yang Maha Kuasa untuk menurunkan hujan guna membasuh/membersihkan darah tersebut sebab di dalam ajaran agama Islam, sesungguhnya mengeluarkan darah sesama manusia adalah perbuatan yang sangat dilarang. Masyarakat Sasak mempercayai bahwa Yang Maha Kuasa akan merasa simpati dan cepat mengabulkan permohonan mereka sebab para Pepadu melakukan pertarungan yang begitu berbahaya itu dengan rasa ikhlas dan penuh harap atas ridho-NYA, bukan atas dasar dendam atau nafsu. Demikianlah pemahaman masyarakat Sasak sehingga permainan Perisean dibatasi atau akan diberhentikan apabila salah seorang Pepadu mengeluarkan darah karena sabatan penjalain (stik pemukul) musuhnya atau jika salah seorang Pepadu mengaku menyerah pada lawannya. Selain hal tersebut, bagi masyarakat Bayan Lombok Utara, Perisean (Semetian: bahasa Bayan) dijadikan sebagai sarana religious pada pelaksanaan Tradisi Maulid Adat Bayan. Hal yang sama juga dilaksanakan oleh masyarakat Sembalun khususnya yang ada di Desa Bilok Petung.
  2. Nilai Toleransi dan Sportifitas pada Perisean: di dalam pelaksanaan Perisean yang merupakan atraksi adu laga ini terdapat nilai yang sangat luhur, yakni nilai toleransi dan sportifitas. Nilai toleransi dan sportifitas ini tercermin dari aturan yang terkandung pada pelaksanaan Perisean. Sebelum pertandingan dimulai, para Pepadu dibawa oleh promotornya, Pepadu yang akan ditanding ditanya dulu apakah ia siap untuk melawan Pepadu yang akan dihadapkan dengannya. Jika mereka berdua sepakat maka barulah mereka dibawa masuk ke dalam arena dan siap untuk beradu. Dalam permainan Perisean juga terdapat aturan, yakni para Pepadu tidak diperkenankan memukul bagian bawah tubuh lawan yang boleh dipukul hanya bagian pundak, punggung dan kepala. Apabila petarung tidak melanggar aturan itu maka ia akan didis atau disanksi dengan peringatan dah bahkan dikeluarkan dari arena pertandingan. Aturan lainnya adalah pertandingan akan diahiri apabila salah seorang Pepadu mengeluarkan darah dan atau menyerah. Setelah salah seorang pepadu mengeluarkan darah atau menyerah maka msuahnya tidak boleh memukul atau menyerangnya lagi. Sebelum kedua Pepadu keluar dari lapangan, Pekembar (juri) mendekatkan kedua orang pepadu untuk saling berjabat tangan dan atau saling berpelukan. Setelah keluar dari arena pertandingan, para Pepadu akan berlaku sebagai sahabat dan tidak ada yang menyimpan dendam. Dengan demikian jelaslah bahwa Perisean mengandung nilai toleransi dan sportifitas yang tinggi.
  3. Nilai Estetika dan Ekonomis pada Perisean: sebagai salah satu bentuk atraksi Budaya Sasak, Perisean juga mengandung nilai estetika (nilai seni). Permainan Perisean juga merupakan salah satu bentuk seni ketangkasan atau seni beladiri. Dalam permaian Perisean, masing-masing petarung memainkan gerakan-gerakan yang indah dan teratur, baik saat menyerang musuh ataupun saat menangkis serangan musuhnya. Dilihat dari cara permainannya maka jelaslah bahwa Perisean merupakan salah satu jenis seni beladiri dengan permainan senjata berupa setik (pemukul) yang terbuat dari bahan rotan (penjalin: bahasa Sasak). Nilai estetikan yang terkandung dalam permainan ini kemudian membuatnya sering dipentaskan sebagai huburan rakyat dengan tujuan ekonomis. Artinya pertunjukan Perisean diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Bahkan akhir-ahir ini, Perisean sering diselenggarakan sebagai kompetisi. Dalam kompetisi itu, para petarung memperebutkan hadiah yang disiapkan oleh penyelenggara dan tentunya penyelenggara juga mendapat keuntungan ekonomis dari hasil penjualan tiket dan sponsornya. Bukan hanya petarung dan penyelenggara yang mendapatkan keuntungan ekonomis, namun masyarakat yang berada di sekitar lokasi penyelenggaraan juga kecipratan rizki atas penyelenggaraan kompetisi tersebut, terutama masyarakat yang bekerja sebagai pedagang. Bahkan secara ekonomis, Perisean juga diselenggarakan oleh para pengelola wisata guna menghibur wisatawan sehingga atraksi budaya yang satu ini juga sering dipertunjukkan di desa-desa wisata.

 Warga dan pencinta Kampung Media yang budiman, demikianlah nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan adu laga yang disebut dengan nama Perisean oleh masyarakat Lombok. Jika diperhatikan secara mendalam maka kita dapat menemukan nilai-nilai moral yang termaktub sebagai pesan bagi siapa saja yang mencintai dan menggemari permainan tersebut. Dengan mengetahui nilai-nilai yang terkandung di dalam Perisean maka akan timbul kesadaran, terutama bagi masyarakat Lombok bahwa Perisean bukalah sekedar adu laga yang diselenggarakan sebagai ajang pamer kemampuan beladiri, pamer kemampuan mistis dan atau pamer keahlian bermain setik namun Perisean diselenggarakan atas dasar nilai religious yang didalamnya terdapat ajaran toleransi dan sportifitas, nilai estetika yang kemudian Perisean dikembangkan menjadi subah atraksi budaya yang menimbulkan nilai ekonomis bagi masyrakat Lombok.

 

Baca Juga :


Yach… semoga saja Perisean bisa terus dijaga dan lestarikan sebagai atraksi budaya suku Sasak yang penuh dengan nilai moral dan jangan sampai atraksi budaya ini dijadikan sebagai ajang permainan yang dapat menimbulkan rasa dendam dan ahirnya menimbulkan konflik antara para petarung dan atau para pendukungnya. Semoga pula Perisean bisa menjadi bagian dari atraksi budaya yang memperkaya khazanah budaya nasional. (Gambar: NET).

_By. Asri The Gila_ () -01



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan