logoblog

Cari

Tutup Iklan

Bekayat Diiringi Alunan Suling Dewa

Bekayat Diiringi Alunan Suling Dewa

KM. Sukamulia – Tadi malam (Rabu, 09 Oktober 2016), saya mengikuti acara persiapan pelaksanaan tradisi adat Ngangkat Taun di Desa Lendang

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
06 Oktober, 2016 21:10:09
Budaya
Komentar: 7
Dibaca: 32476 Kali

KM. Sukamulia – Tadi malam (Rabu, 09 Oktober 2016), saya mengikuti acara persiapan pelaksanaan tradisi adat Ngangkat Taun di Desa Lendang Nangka Kecamatan Masbagik Kabupaten Lombok Timur. Mengikuti acara tersebut memberikan saya pengalaman baru dalam dunia budaya, khsusnya tradisi budaya masyarakat suku Sasak Lombok. Pengalaman baru yang saya maksud adalah Pembacahan Hikayat yang diiringi oleh alunan Suling Dewa.

Bekayat atau pembacaan hikayat merupakan salah satu tradisi pembacaan hikayat atau takepan yang tertulis di atas daun lontar. Umumnya, tradisi ini dilakukan oleh masyarakat suku Sasak yang ada di seluruh wilayah pulau Lombok. Bekayat juga merupakan antraksi budaya Sasak yang hingga saat ini masih lesatri. Banyak jenis hikayat yang kerap dibaca pada berbagai prosesi adat masyarakat Sasak. Misalnya Hikayat Nur yang biasa dibaca pada saat pelaksanaan acara Ngangkat Taun (peringatan awal tahun islam) di Lendang Nangka dan pada saat malam puncak prosesi acara Nyiwaq (peringatan Sembilan hari meninggalnya seseorang) masyarakat Kecamatan Sembalun, Hikayat Jati Suara yang biasa dibaca pada prosesi khitanan masyarakat Kecamatan Bayan dan sebagainya.

Selama ini saya sudah sering mengikuti acara pembacaan hikayat (Bekayat: bahasa Sasak), bahkan acara semacam itu sering saya ikuti di beberapa wilayah Lotim dan KLU, namun baru kali ini saya menemukan pembacaan hikayat yang diiringi oleh alunan Suling Dewa. Alunan nada Suling Dewa itu membuat suasan pembacaan hikayat terasa hidup dan membuat saya dan para pendengar lainnya larut dan menyelami makna isi takepan yang dibacakan.

Alunan Suling Dewa mengikuti irama suara pembaca hikayat (Pewacan: bahasa Sasak). Hal tersebut membuat suasana pembacaan hikayat semakin berkesan di liang telinga saya dan para pendengar lainnya. Pembacaan hikayat terdengar merdu mendayu. Peniup Suling Dewa dan Pewacan seakan-akan menyatukan jiwa mereka pada alunan nada. Tinggi rendahnya alunan nada yang dihasilkan oleh tiupan Suling Dewa mengikuti alunan suara sang pewacan, seolah-olah jiwa pewacan telah menyatu dengan jiwa sang peniup Suling Dewa sehingga tercipta irama yang sepadan dan merdu diantara kedua pemain itu.

Sungguh, mendengarkan kompaknya irama  suara pewacan dan alunan nada yang dimainkan oleh peniup Suling Dewa pada pembacaan hikayat itu membuat saya larut dan terkesima, lebih-lebih hikayat yang dibaca adalah Hikayat Nur yang mengupas mengenai asal usul dua kalimat syahadat dan asal usul penciptaan Nur Muhammad yang merupakan awal dari keberadaan seluruh ruh manusia.

Haji Lalu Yudi (tokoh adat Desa Lendang Nangka) memberi tahu saya bahwa Pembacaan Hikayat/Takepan dengan diiringi Suling Dewa merupakan hal yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat Desa Lendang Nangka, khsusunya dalam pada saat pelaksanaan tradisi adat budaya masyarakat Lendang Nangka dan hal itu dilaksanakan sejak nenek moyang mereka. Tujuan ditupnya Suling Dewa sebagai pengiring pembacaan hikayat adalah supaya pembacaan hikayat itu terkesan lebih menarik dan memancing minat warga untuk datang mendengarkan pembacaan hikayat sebab jika hanya pembacaan hikayat tanpa diiringi Suling Dewa maka pembacaan hikayat terkesan membosankan dan kurang menarik untuk diikuti oleh masyarakat.

Keterangan tokoh adat Lendang Nangka itu memberi pengetahuan bahwa tiupan Suling Dewa pada saat dilaksanakan pembacaan hikayat ditujukan untuk mengundang perhatian supaya kegiatan tersebut dihadiri dan diikuti oleh masyarakat. Selain itu, tiupan Suling Dewa juga akan membuat pembacaan hikayat terkesan lebih menarik sehingga para pendengarnya tidak bosan untuk mendengarkan hikayat yang dibacakan.

 

Baca Juga :


Lalu Malik Hidayat juga menerangkan bahwa tradisi pembacaan hikayat dengan iringan Suling Dewa merupakan tradisi budaya yang mereka warisi dari nenek moyang masyarakat Lendang Nangka dan terbukti bahwa dengan adanya iringan Suling Dewa membuat warga antosias untuk mengikuti acara pembacaan hikayat yang dilaksanakan sebagai pengawal dari berbagai prosesi tradisi adat masyarakat Lendang Nangka.

Keterangan Malik Hidayat itu memberikan pengetahuan bahwa Suling Dewa merupakan salah satu atraksi budaya yang sudah lama dilaksanakan di Dewa Lendang Nangka. Bahkan Malik Hidayat dan tokoh adat Lendang Nangka lainnya tidak mengetahui sejak kapan Suling Dewa mulai berkembang di sana. Hanya saja mereka sudah menemukan dan mewarisi Suling Dewa yang sejak dahulu tersimpan di Puri Dalem Selaparang dan kesenian Suling Dewa itu terus mereka kembangkan.

Perlu kiranya saya sampaikan bahwa Suling Dewa yang ada di Lendang Nangka juga digunakan sebagai pengiring permainan gamelan yang merupakan bagian dari alat permainan Suling Dewa tersebut. Hanya saja, pada saat pembacaan hikayat, Suling Dewa dimainkan tanpa gamelan dan alat musik pelengkap lainnya.

Suling Dewa yang ada di Lendang Nangka terdiri dari tiga ukuran, yakni ukuran paling pendek 70 cm, ukuran sedang 1 meter dan ukuran paling panjang 1,5 meter dan yang kerap digunakan untuk mengiringi pembacaan hikayat adalah Suling Dewa yang berukuran 1 meter dan kesemuanya diwariskan secara turun temurun oleh pewaris Puri Dalem Selaparang yang sekarang dijadikan sebagai sekertariat Rumah Peradaban Lendang Nangka.

_By. Asri The Gila_ () -03



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

7 KOMENTAR

  1. KM. Tembe Nggoli

    KM. Tembe Nggoli

    10 Oktober, 2016

    di Bima ada namanya patu Mbojo biasa di adakan pada saat malam persiapan perkawinan dimana berupa berbalas pantun yang berisi nasehat,agama dan masih lestari. Salam kami dari Bima memang Indonesia kaya dengan tradisi dan budaya terutama di NTB (Lombok, Sumbawa dan Bima)


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      11 Oktober, 2016

      Waalaikumsalam wr wb. Bima memang memiliki kekayaan sejarah, tradisi budaya dan kekayaan alam yang berlimpah... kami percaya itu dan itu semua perlu untuk dijaga dan terus dilestarikan agar generasi muda bangsa ini bisa menemukan itu semua sebagai kekayaan nusantara. Terimakasih atas komentar sekaligus informasinya, salam dari kampung.


  2. KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    08 Oktober, 2016

    sukses selalu at Headline


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    08 Oktober, 2016

    Di masbagik memang banyak tradisi (budaya ) yang bertahan, diantaranya hikayat dan suling, beda dengan di kelayu itu diringi dengan rewbana


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      10 Oktober, 2016

      Lendang Nangka memang desa yang memiliki aset budaya, tinggalan sejarah dan arkeologi sehingga Badan Arkeologi Nasional memilih desa tersebut senagai pusat Rumah Peradaban yang merupakan pusat pengkajian tinggalan arkilogi dan sejarah serta budaya wilayah Lombok Timur. Terimakasih atas informasix terkait dengan tradisi Bekayat yang diiringi dengan permainan rebana yang ada di Kelayu. Terus berkarya dan dalam dari kampung.


  • KM. Taliwang

    KM. Taliwang

    08 Oktober, 2016

    Patut dilestarikan.


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      10 Oktober, 2016

      Terimakasih atas motivasinya dan tentunya semua tradisi budaya yang ada di sekitar kita harus kita jaga dan lestarikan sebab itu merupakan kekayaan yang sungguh besar nilainya, baik bagi pelakunya maupun bagi kebudayaan nasional.


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan