logoblog

Cari

Menarikan Gandrung Sasak di Tengah Malam

Menarikan Gandrung Sasak di Tengah Malam

Sebagai wakil dari kontingen Nusa Tenggara Barat, mahasiswa UNU NTB kembali menyajikan seni tradisi. Pada kesempatan kedua, lima orang mahasiswi menyajikan

Budaya

Galih Suryadmaja
Oleh Galih Suryadmaja
18 Juni, 2016 15:02:00
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 51671 Kali

Sebagai wakil dari kontingen Nusa Tenggara Barat, mahasiswa UNU NTB kembali menyajikan seni tradisi. Pada kesempatan kedua, lima orang mahasiswi menyajikan Gandrung Sasak. Kali ini mereka berkesempatan menampilkan tari pada pukul 00.00 WIB tanggal 29 April 2016 bertempat di Pendopo Ageng Institut Seni Indonesia Surakarta. Usai serangkaian pementasan Empu atau pakar tari se-Indonesia yang menghadirkan penari dari berbagai Keraton atau Istana dan termasuk di dalamnya para Guru Besar salah satunya adalah rektor ISI Surakarta Prof. Dr. Hj. Sri Rochana W,M.Hum. Gandrung mengawali serangkaian pementasan pada hari kedua. Pengalaman berbeda dirasakan oleh para penari, di mana mereka harus keluar dari kebiasaan. Untuk kali pertama mereka harus mengenakan make up di malam hari, dan menari di pergantian hari. Jauh dari yang dibayangkan, Irma Septiana salah seorang penari merasa senang memiliki kesempatan itu. Sedikit kaget yang sebelumnya beranggapan bahwa rundown yang diberikan pihak penyelenggara menjadikan ia berfikir bahwa tidak lagi ada penonton menyaksikan karena malam telah larut. Ternyata setelah berada di atas panggung mereka masih menyaksikan keberadaan ribuan penonton dengan antusias yang cukup tinggi meski malam hari. Pengibingan dalam rangkaian tari Gandrung ini pun cukup menyemarakkan suasana malam. Banyak penonton merasa terhibur, terlebih dengan keterlibatannya secara langsung untuk me-ngibing. Ruang interaksi terbangun antara penyaji dan penonton, hal itu menjadi kekhasan tersendiri bagi tari ini dalam memperkenalkan diri kepada khalayak luas. Meski diketahui bahwa tari Gandrung tidak hanya hidup di Lombok, terdapat juga Gandrung Banyuwangi dan Bali, akan tetapi secara utuh bentuk dan cirinya menampakkan rupa berbeda. Ini yang kemudian perlu disadari oleh masyarakat pemiliknya, Sasak. Bahwa dalam perjalanan hidupnya masyarakat Lombok nyatanya telah memberikan sentuhan khasnya dalam ruang yang disebut seni. Masyarakat Sasask patut bangga pada seni tradisinya tanpa harus membanding-bandingkan dengan seni tradisi di daerah lain. Karena hal itu pasti akan berbeda, mengingat masing-masing daerah memiliki nilai budaya berbeda. Keberadaan seni tradisi merupakan representasi atas kehidupan masyarakat pemiliknya. Tradisi menjadi satu kebiasaan yang secara terus menerus diwariskan dan dinamis dengan perkembangan nilai dalam masyarakatnya. Artinya bahwa seni tradisi yang dimiliki masyarakat tidak lain adalah wujud budaya yang senantiasa mengalami penyesuaian dari waktu-ke waktu mengikuti perkembangan nilai kehidupan dalam masyarakat tersebut. Jika seseorang ingin belajar memahami dan mempelajari suatu budaya dalam masyarakat, tentu hal yang mudah untuk dijumpai adalah dengan melihat seni tradisinya. () -01

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan