logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pelajaran Dibalik Kain Tenun Bima

Pelajaran Dibalik Kain Tenun Bima

Dalam catatan kali saya akan membahas mengenai proses menenun para wanita Suku Mbojo atau di sebut Muna, dimana tradisi Muna sudah

Budaya

KM Samparaja
Oleh KM Samparaja
23 Mei, 2016 14:45:19
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 21372 Kali

Dalam catatan kali saya akan membahas mengenai proses menenun para wanita Suku Mbojo atau di sebut Muna, dimana tradisi Muna sudah dilakukan oleh leluhur sejak dulu. Selain pekerjaan rumahan yang biasa dilakukan oleh Ibu-ibu rumah tangga, Muna Juga merupakan pekerjaan bisnis rumah tangga yang cukup meningkatkan ekonomi keluarga, untuk melihat proses Muna saya akan menuju ke Desa Busu.

Matahari mulai terasa hangatnya (hangat versi Indonesia timur) di Desa Busu, dan aroma sawah yang ditiupkan oleh angi menemani perjalanan saya menuju ke Busu. Berhubung itu hari Jum`at saat itu sawah-sawah tampak sepi dari segala aktifitas. Sejak dulu masyarakat Bima, yang sebagai petani, nelayan, dan para tukang kayu setiap hari Jum`at mereka tidak melakukan pekerjaan.

Setelah sampai di Busu, sejenak saya luangkan waktu untuk berkeliling melihat aktifitas masyarakatnya. Yang menarik dan membuat saya suka mengunjungi Busu yaitu suara alat-alat tenun di setiap rumah penduduk yang saling membalas, tak..tak..tuk..tuk dengan sendirinya suara-suara itu membuat irama di lembah Busu tersebut.

Menenun atau dalam bahasa Bimanya `Muna` sudah menjadi tradisi turun temurun para wanita di Busu, bukan saja di Busu yang terdapat para wanitanya sangat aktif menenun tapi juga di daerah-daerah pinggir kota juga banyak menenun seperti di Ntobo, Rite dan Raba Dompu pun masih banyak yang menenun apalagi dengan didukung sentra tenunan (semacam koperasi) yang bisa menjual hasil dari tenunan mereka.

Adzan Sholat Jum`at berkumandang terdengar dari corong Masjid jam menunjukkan pukul 12 siang, sayapun menuju masjid untuk Sholat Jum`at berjamaah, suasana sangat sejuk di tempat berwudhu karena Desa Busu dikelilingi oleh pegunungan. Mendengarkan ceramah Khatib Jum`at di Desa Busu yang menggunakan Bahasa Bima sangat menarik dan enak didengar dimana kata-katanya masih menggunakan bahasa bima yang sangat halus. Selesai Sholat Jum`at sayapun melanjutkan untuk berkeliling ke Desa sebelah Busu yaitu Ntobo.

Setelah sampai di Ntobo saya melihat seorang Ibu yang sedang asik menenun di depan rumahnya, sayapun menghampiri Ibu tersebut dan berkenalan denganya. Ibu tersebut bernama Siti Nur dengan ramahnya mempersilakan saya untuk duduk sembari di melakukan Muna, kadang tempat Muna dilakukan di bawah kolong rumah panggung tapi kebanyakan Muna dilakukan di depan rumah panggung yang mempunyai `Sampana` yaitu teras rumah panggung adat Bima.

tidak melewatkan kesempatan sayapun bertanya tentang proses Muna pada Ibu Nur yang sudah melakoni Muna dari waktu beliau SD kelas lima hingga sekarang, usia dari Ibu Nur sudah berkepala empat dan mempunyai tiga orang anak.

Sambil melakukan Muna dan membuat pola tenunan dengan benang warna-warni, Ibu Nur menjelaskan proses Muna kepada saya yang dimana tahapan awal dilakukan yaitu `Moro` sebuah proses menggulung benang dengan alatnya yang disebut Janta dan Ngiri yaitu pemintal benang.

Setelah tahapan pertama dilakukan langkah selanjutnya yaitu `Ngane` dimana benang-benang yang di gulung tadi kemudian di susun sesuai pola warna yang di inginkan. Biasanya pola warna yang mendominasi kain atau sarung yang di Muna yaitu warna hitam, merah dan kuning.

 

Baca Juga :


Langkah selanjutnya setelah Ngane dilakukan yaitu `Lara dan Luru` di mana benang di bentangkan bisa sepanjang kurang lebih 15 meter panjangnya. Lara dan Luru yaitu menggulung dan meluruskan benang dengan sebuah papan yang disebut Tampe.

Kemudian tahapan selanjutnya yang dilakukan yaitu ‘Cau’ berarti sisir dimana semua benang yang telah di Lara dan Luru tadi di masukkan satu persatu kedalam sisirnya, tahapan ini membutuhkan kesabaran yang sangat ekstra karena harus fokus memasukkan satu persatu hingga hingga mencapai ratusan kedalam cau.

Setelah semua tahapan Moro, Ngane, Lara dan Luru dan cau maka langkah selanjutnya yang terakhir yaitu menenun atau Muna, seperti yang di jelaskan Ibu Nur dengan sangat detail dan penuh canda tawa.

Untuk menghasilkan sarung dan kain yang sangat bagus kualitasnya maka diperlukan kesabaran dan ketelitian kata Ibu Nur, jika melakukan Muna dengan kesabaran maka akan tercipta kerapian pada sarung atau kain yang di hasilkan. Para wanita Suku Mbojo yang sudah sering Muna, semakin mahir mereka Muna maka akan semakin mereka teliti dan sabar dalam menghasilkan karya yang indah.

Biasanya dalam sebulan sarung atau Tembe Ngoli dalam bahasa Bima, yang dihasilkan minimal tiga atau empat helai karena setiap sarung di tenun dalam waktu 6 hingga 7 hari, satu sarungnya biasa mereka jual seharga Rp. 150.000 untuk motif yang biasa, jika motif yang sangat bagus dan kualitasnya baik satu sarungnya bisa mencapai satu juta.

Para wanita Suku Mbojo di Busu dan Ntobo biasanya di latih untuk Muna saat mereka berusia 8 hingga 9 tahun oleh Ibu mereka, dan sudah menjadi tradisi jika dalam satu rumah terdapat tiga wanita maka alat tenun juga harus tiga pasang. Ada satu hal yang menarik yaitu untuk melihat para wanita siap menikah atau belum, juga bisa di lihat dari kemahirannya saat Muna, jika sudah mahir berarti si wanita itu sudah siap untuk dilamar.

mungkin sampai disini dulu catatan saya mengenai tradisi Muna wanita Suku Mbojo, banyak filosofi yang bisa kita petik dan pelajari dari Muna yaitu mengenai kesabaran untuk menghasilkan karya yang bagus.(Traveller Kampung) - 03



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan