logoblog

Cari

Tradisi Unik Cocok Tanam Suku Mbojo

Tradisi Unik Cocok Tanam Suku Mbojo

Segala keindahan dan irama awal musim hujan di Bima sangat menakjubkan dedaunan mulai nampak hijau memoles dan menghiasi tanah Bima semakin

Budaya

KM Samparaja
Oleh KM Samparaja
17 Mei, 2016 22:32:57
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 22916 Kali

Segala keindahan dan irama awal musim hujan di Bima sangat menakjubkan dedaunan mulai nampak hijau memoles dan menghiasi tanah Bima semakin cantik, dan yang paling menakjubkan kala musim hujan datang yaitu kegiatan para petani menanam padi di atas gunung (sawah tadah hujan) awal musim hujan, yaitu sebuah tradisi Suku Mbojo yang disebut Oma menetap dan bertani di atas gunung sampai musim panen tiba.

Sabtu pagi jam 7.30 Wita, dengan agak tergesa-gesa karena bangunnya agak terlambat. Karena janji jam 6 pagi untuk star bersama Deden, teman yang mempunyai lahan di atas gunung Lela akan di garap oleh para Panati yaitu orang yang di bayar untuk menanam padi. Tapi menanam padi ini bukan menanam seperti biasanya, nantinya mereka dikala saat menanam akan di iringi oleh musik tradisional Gambo.

Semua kebutuhan dan konsumsi telah disiapkan, kamipun mulai mendaki gunung Lela untuk menuju lokasi tempat berlangsungnya kegiatan penanam tersebut, perjalanan menuju lahan itu kami menyususri bukit kecil dengan ketinggian kurang lebih 400 mdpl. Lamanya perjalanan kurang lebih 50 menit.

Tradisi menanam yang di iringi oleh musik tradisional itu disebut Sagele dan Arugele, dimana para Ibu-ibu itu menanam benih padi dan gerakan mereka serentak bersamaan mengikuti irama Gambo yang dimainkan oleh seorang musisi yang memang di bayar khusus oleh pemilik lahan yang akan di tanami. Musisi tersebut juga bertugas sebagai instruktur yang mengarahkan arah untuk menanam.

Pemain Gambo dengan peralatan yang sederhana yaitu satu buah Aki, toak kecil serta ampli yang dibuat sendiri di gantung di samping untuk memudahkan dia berjalan sambil memainkan Gambo yang sangat menarik sekali untuk di saksikan.

Karena lahan tadah hujan tidak rata jadi penanaman dilakukan dengan cara terlebih dahulu di mulai dari atas dan berakhir di bawah. Setelah di bawah para penanam itu bisa beristirahat dulu sejenak sambil mendengarkan irama Gambo yang dimainkan.

 

Baca Juga :


Dengan peralatan yang disebut Cu`a dan kantong untuk menaruh bibit padi yang terikat di pinggang mereka, para Ibu-ibu tersebut dengan lincahnya menanam sambil mengikuti irama Gambo yang dimainkan oleh musisi tersebut. Selain Gambo yang dimainkan biasanya juga menggunakan Biola dengan ditambah seorang penyanyi, tapi berhubung ketika itu sang biduanita-nya sakit jadi hanya Gambo yang menemani Sagele tersebut.

Sambil menunggu para Ibu-ibu Sagele yang beristirahat di bawah, kamipun menggunakan waktu itu untuk istirahat di gubuk yang sangat nyaman dengan view teluk Bima dari kejauhan dan sejuknya udara pegunungan. Ternyata Deden telah menyiapkan beberapa makanan yaitu ayam bakar dan sambal yang sederhana tapi sangat menggigit (pedas).

Lahan yang akan di tanam itu luasnya kurang lebih 2 hektar besarnya, dan kemampuan para Ibu itu sangat luar biasa lincahnya, bayangkan sambil jongkok mereka menanam benih padi dengan berjalan mundur menuruni turunan lahan gunung itu. Saya sangat kagum melihat keuletan mereka sambil mendengarkan alunan musik Gambo yang menghilangkan lelah mereka.(traveller kampung)

Lihat Video Sagele DiSINI () -03



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan