logoblog

Cari

Tutup Iklan

Kearifan Lokal, Kekayaan Karang Bajo

Kearifan Lokal, Kekayaan Karang Bajo

Kabupaten termuda di  Provinsi Nusa Tenggara Barat yaitu Kabupaten Lombok Utara (Gumi Tioq Tata Tunaq) memiliki luas 809,53 Km², dengan  secara

Budaya

Syamsul Riyadi
Oleh Syamsul Riyadi
11 Mei, 2016 02:05:35
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 17119 Kali

Kabupaten termuda di  Provinsi Nusa Tenggara Barat yaitu Kabupaten Lombok Utara (Gumi Tioq Tata Tunaq) memiliki luas 809,53 Km², dengan  secara geografis berada di kaki utara gunung rinjani (3.726 meter) yaitu gunung tertinggi ke 6 di Indonesia setelah gunung Puncak Jaya, Puncak Mandala, Puncak Trikora, Ngga Pilimsit, Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani.

Daerah yang  memiliki sejumlah objek wisata yang cukup terkenal di mancanegara, seperti Gili Terawangan, Air Terjun Sendang Gile Bayan, serta keindahan Danau Segare Anak yang ada di puncak Rinjani dan sebagainya. Kabupaten Lombok Utara dengan luas wilayah daratan yakni seluas 809,53 Km², dan secara administrastif terbagi dalam 5 (lima) kecamatan, 33 Desa dan 322 Dusun.

Untuk pertanian sendiri menjadi penopang perekonomian masyarakat Kabupaten Lombok Utara karena sebagian besar penduduk bekerja di sector pertanian. Dengan luas dn tanah yang subur merupakan modal utama masyarakat sekitar khususnya pada pertanian tanaman pangan dan perkebunan selain sektor peternakan, perikanan dan kehutanan.

 Salah satunya Kecamatan Bayan merupakan luas wilayah terbesar dengan luas wilayah 329,10 Km² dan terkecil adalah Kecamatan Pemenang dengan luas wilayah 81,09 Km². Dari  Kecamatan Bayan terdapat  9 desa.Salah satunya desa karang bajo merupakan salah satu kampung tradisional yang terketak di Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, yang masih menjalankan dan menjaga adat istiadat kehidupan asli Suku Sasak-Bayan. Dengan pola permukiman mengelompok dan terbentuk oleh kondisi alam yang berbukit-bukit dan berdasarkan sistem kekerabatan yang kuat dalam kehidupan masyarakatnya pada sistem pertanian (kearfpan lokal).

Melakukan panen padi bulu jenis lokal pada sawah (bangket/bahasa daerah sasak) masih melalui ritual adat budaya desa.Sebuah Tradisi masyarakat dalam melesatrikan dan mempertahankan adat dan  budaya  dalam pengelolaan sawah yang di tanami dengan Padi Bulu. Mekanisme yang dilakukan mulai dari sawah/bangket dari sejak mau turun bibit/benih dilakukan ritual syukuran yang disebut dengan roah selamet olor di mata air, kemudian setelah tanam padi berbunga dilakukan ritual menyemprek,selanjutnya padi yang akan panen dilakukan ritual roah bauan pare. Untuk panen sendiri padi bulu tersebut di ikat dan sebelum di masukkan ke dalam geleng atau Lumbung dilakukan ritual roah borangan pare dan setelah padi tersimpan dalam geleng dilakukan roah selamet .

Acara syukuran/roah bauan pare ini hanya dilakukan oleh dua orang yaitu Tokoh agama setempat sering disebut mak kiyai bersama pembekel atau tokoh masyarakat adat. Proses acara roah bauan pare ini dilakukan disawah langsung dilokasi padi sebelum dipanen. Untuk  sajian berupamakanan berupa dulang yang isinya satu piring nasi, dua piring sayur, satu piring serbuk ayam dan garam secukupnya.Di tempat itu biasa disediakan pengikat atau tali yang terbuat dari bambu /tereng yang disebut remet intian, pengikat panjang sisebut remet awinan, setelah kering dijemur pengikatnya disebut remet belahan dan pengikat terakhir namanya remet tekelan.

 Komoditi padi bulu untuk masyarakat kecamatan bayan (pare) di ikat tidak dimasukkan dalam karung sedangkan  untuk komoditi padi jenis IR, Padi serang, Pelita mas, Sito gendit yang pohonnya pendek disebutnya (gabah). Dalam  pengolahan tanah sampai proses panen dan simpan padi bulu/pare atau padi gabah dilakukan secara alami,. Mulai dari membajak menggunakan ternak sapi dan tidak di ijinkan masuk menggunakan traktor dan mesin prompes, pengangkutan padi keluar dari bangket bayan juga masi dilakukan dengan cara alami tidak memakai sepeda motor atau mobil.

Sedangkan untuk petugasdalam mengurus air sawah disebut pekasih atau inan aik, padi sebelum dibawa pulang dari sawah terlebih dahulu menyerahkan saweneh kepada pekasih, dan padi sebelum di oleh menjadi beras dan akan dimasak terlebih dahulu juga memberikan Pelemer atau gunja istilah sekarang dinamakan zakat kepada pengurus adat yang ada didalam kampu atau kepada tokoh agama (kiyai penghulu maupun kiyai lebe).  Untuk kebutuhan sehari hari Padi bulu yang ada didalam lumbung atau geleng di turunkan kedalam tempat yang dinamakan monjeng.

 

Baca Juga :


Masyaraka adat pada dasarnya harus menyimpan padi bulu walaupun hanya sedikit sebab padi bulu akan dibawa pada acara ritual keagamaan ke dalam kampung, seperti acara syukuran/roah ulan, roah sampet jumat, roah malaman, roah lebaran idul fitri, roah lebaran topat, roah lebaran haji, roah bubur petak, roah bubur abang, roah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan acara lain seperti roah selamet turun ton turun balit atau setiap ada peristiwa kematian padi bulu juga harus ada.

Semoga dengan menjaga tradisi adat istiadat dan melestarikan budaya masyarakat setempat mampu menjadikan sebagai ciri khas suatu daerah dan bentuk kesyukuran manusia kepada sang pencipta alam semesta.

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lombok_Utara

Sosial Media Facebook Desa Karang Bajo [] - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan