logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tradisi Sedekah Sekat

Tradisi Sedekah Sekat

Rasa syukur atas kelimpahan  rezeki Sebagai umat manusia yang beriman  adalah sebuah wujud dari nilai keimanan. Bersyukur merupakan pengakuan bahwa segala

Budaya

Randal Patisamba
Oleh Randal Patisamba
28 Oktober, 2015 22:25:20
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 11088 Kali

Rasa syukur atas kelimpahan  rezeki Sebagai umat manusia yang beriman  adalah sebuah wujud dari nilai keimanan. Bersyukur merupakan pengakuan bahwa segala rezeki yang di dapatkan adalah pemberian yang berasal dariNya. Salahsatunya adalah dengan bersedekah. Tentunya bersedekah dengan ikhlas dari para pencari rezeki yang halal.

Di Sumbawa tepatnya di Desa Lawin Kecamatan Ropang, ada suatu tradisi syukuran dimana masyarakatnya melaksanakan  acara bersedekah  yang melibatkan seluruh warga masyarakt kampung tersebut. Tradisi ini disebut dengan Sedekah Sekat (zakat). Pelaksanaan Perayaannya dengan makan bersama di masjid.  Tradisi Sedekah sekat merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Lawin dan sekitarnya kepada Allah swt atas pencapaian hasil panen mereka setiap tahunnya yang dilaksanakan pasca musim panen padi.

Tradisi Sedekah sekat tidak hanya dirayakan oleh warga kampung Lawin saja namun masyarakt desa sekitar juga ikut bahkan tak jarang tamu dari luar kampung sengaja diundang untuk mengikuti acara tersebut. Tak sedikit pula warga Lawin yang tinggal di Sumbawa Besar atau yang sudah menetap di tempat lain khusus pulang ke Lawin hanya untuk mengikuti Sedekat Sekat. Syaifudin-salah seorang penduduk asli Lawin yang sudah lama tinggal di kampung lain, mengakui bahwa setiap diadakannya Sedekah Sekat ia bersama keluarganya selalu menyempatkan diri menghadiri, “saya selalu menyempatkan diri mengajak keluarga untuk menghadiri Sedekah Sekat, selain bersedekah memohon kemurahan rejeki kita juga sekaligus bersilaturrahim dengan warga lain” ujarnya.

Tua muda laki peremuan semuanya larut dalam persiapan acara. Adapun kebiasaan masyarakat setempat menjelang hari H, salahsatunya adalah mereka melakukan Nimung Rame, dimana masyarakat secara berkelompok membuat Timung (nasi bambu) yang nantinya akan disajikan dan dibagikan diacara sedekah. Sebagian masyarakat lainnya ada yg mencari ikan  dengan cara tradisional di sungaisungai sekitar kampung. Intinya semua sajian makanan harus berasal dari hasil pertanian dan perikanan masyarakat setempat. Tak boleh ada bahan makanan yang dibeli ditoko atau didapatkan dari luar kampung.

Saat hari H tiba, kaum perempuan berbondongbondong mendatangi masjid. Mereka hanya sekedar mengantar makanan. Kaum perempuan hanya sebagai penyaji saja, mereka bertanggungjawab mempersiapkan dan mengatur hidangan namun tidak ikut serta menikmati hidangan di acara tersebut.

 

Baca Juga :


Acara biasanya diawali dengan sambutan dari pemerintah desa atau tokoh masyarakat setempat. Kemudian diisi dengan tauziah oleh tokoh agama yang dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah itu prosesi sedekah dilaksanakan.

Sedekah Sekat tak sekedar pengejewantahan rasa syukur masyarakat Lawin kepada sang Khaliq akan tetapi juga merupakan suatu pembelajaran tentang ikhtiar dan media silaturrahim yang diwariskan secara turun temurun dari para pendahulu mereka kepada generasi selanjutnya. [] - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan