logoblog

Cari

Nyekar Makem, Tradisi di Hari Raya

Nyekar Makem, Tradisi di Hari Raya

KM. Sukamulia – Nyekar  Makem merupakan salah satu tradisi yang erat kaitannya dengan ajaran agama islam yang berkenaan dengan ajaran bakti

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
25 September, 2015 11:31:10
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 50997 Kali

KM. Sukamulia – Nyekar  Makem merupakan salah satu tradisi yang erat kaitannya dengan ajaran agama islam yang berkenaan dengan ajaran bakti kepada kedua orang tua dan para leluhur. Nyekar biasa dilaksanakan pada saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Masyarakat islam, khusunya yang ada di Lombok dan Indonesia pada umumnya memanfaatkan momen hari raya untuk mengunjungi makam keluarga mereka dan kemudian melakukan dzikir dan doa di tempat tersebut dan hal inilah yang kemudian disebut dengan tradisi Nyekar Makem oleh masyarakat suku Sasak Lombok.

Pada umumnya penganut agama islam disyariatkan untuk berbakti kepada kedua orangtua, baik semasa hidup ataupun setelah mereka meninggal dunia. Bukti kebaktian seorang anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal dunia adalah dengan banyak menghadiahkan pahala dzikir dan doa kepada arwah mereka. Bukti lainnya adalah memelihara dan mengunjungi makam mereka untuk menghadiahkan pahala bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, dzikir dan doa kepadanya. Di dalam ajaran agama islam, hal ini disebut dengan istilah ziarah makam dan masyarakat Sasak menyebutnya dengan istilah Nyekar Makem. Dalam bahasa masyarakat Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur, kata Nyekar berarti mengunjungi, medatangi atau menjenguk. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tradisi Nyekar Makem adalah tradisi mengunjungi makam keluarga, guru dan sahabat-sahabat dekat guna menghadiahkan pahala dzikir dan doa kepada arwah si pemilik makam.

Masyarakat Sasak mempercayai bahwa pada momen hari raya, arwah orang yang telah meninggal dunia diberikan pengampunan oleh Allah SWT sebab itulah hari itu dianggap sebagai momen yang tepat untuk menghadiahkan pahala dzikir dan doa kepada arwah leluhur yang dengan pahalan dzikir dan doa tersebut diharapkan bahwa arwah leluhur mereka diberikan kenikmatan dan tempat yang baik di sisi Allah SWT. Masyarakat Sasak, khusunya yang ada di Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya dan sekitarnya juga mempercayai bahwa pada malam-malam hari raya (menjelang shalat magrib hingga isa), arwah orang-orang yang telah meninggal dunia pulang ke rumah keluarga mereka untuk melihat keadaan keluarga yang telah mereka tinggalkan. Sedangkan pada pagi hari raya (setelah pelaksanaan shalat id), arwah orang-orang yang telah meninggal dunia menunggu kedatangan keluarga dan sahabat mereka di atas tempat pemakamannya. Mereka akan sangat bersedih apabili tidak ada satupun diantara keluarga dan sahabat dekat mereka semasa hidup yang mengunjunginya pada hari itu.

Atas kepercayaan itulah maka pada malam hari raya Idul fitri dan idul Adha, masyarakat Sasak melakukan tradisi dzikiran di rumah masing-masing yang dimana pahala dzikir dan doa itu diniatkan untuk keluarga dan kerabatnya yang telah meninggal dunia. Kepercayaan itu pula yang kemudian membuat masyarakat Sasak senantiasa melakukan tradisi Nyekar Makem (ziarah makam) pada setiap datangnya hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Selesai melaksanalan shalat id, masyarakat Sasak biasanya melaksanakan dzikiran di rumah masing-masing, setelah itu mereka akan berbondong-bondong bersama aggota keluarga untuk menuju tempat pemakaman dengan membawa ember atau alat lain yang akan digunakan untuk mengambil air yang nantinya akan disiramkan di atas makam keluarganya. Apabila makam keluarganya belum bersih (ditumbuhi rumput) maka terlebih dahulu mereka membersihkan makam tersebut. Wadah yang telah diisi air biasa ditaruh di atas makam/kubur, tepatnya di dekat nisan yang berada pada bagian kepala.

Setelah itu mereka duduk di sekitar pemakaman sambil membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dirangkaikan dengan dzikir dan doa yang diniatkan untuk arwah si pemilik makam/kuburan. Usai membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang dirangkaikan dengan zikir dan doa maka mereka akan menyiramkan air yang ditaruh tadi pada nisan dan bagian kuburan lainnya. Banyak pula mereka yang menggunakan air tersebut untuk membasuh muka (Bejarup/Beseraup: bahsa Sasak), terutama anak-anak kecil. Terkait dengan hal tersebut, masyarakat Sasak mempercayai bahwa air yang telah dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an, dzkir dan doa itu dapat memberikan barokah bagi arwah si penghuni kubur dan orang-orang yang menggunakannya untuk membasuh muka dan meninggalkan pemakaman.  

Jika diperhatikan dengan seksama maka dapat diketahui bahwa tradisi Nyekar Makem mengandung nilai yang sangat luhur bagi kehidupan manusia, khususnya bagi para penganut agama islam. Selain sebagai ungkapan kebaktian kepada kedua orang tua, rasa cinta kepada sahabat dan kerabat yang telah meninggal dunia, tradisi Nyekar Makem juga menumbukan keimanan dan kesadaran bagi setiap orang yang melaksanakannya.

 

Baca Juga :


Yang penulis maksud dengan keimanan dan kesadaran dalam tulisan ini adalah imana kepada hari kiamat dengan seluruh rangakaian alam yang harus dilalui oleh setiap manusia pada saat berada di alam kubur dan alam akhirat kelak. Selanjutnya, yang penulis maksud dengan kesadaran adalah, tumbuhnya rasa sadar pada jiwa setiap orang yang melaksanakan Nyekar Makem bahwa setiap yang bernyawa pasti mati dan setiap orang yang mati tidak terputus hubungannya dengan keluarga, sahabat dan kerabatnya yang masih hidup sehingga kita yang masih hidup hendaknya senantiasa menghadiahkan pahala bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dzikir dan mendoakan mereka supaya mendapatkan tempat yang bagus di sisi Allah SWT.

Mengingat luhurnya nilai yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi ini maka, tidak salah jika orang tua kita yang ada di pulau Lombok senantiasa melaksanakan dan mewariskan Tradisi Nyekar Makem kepada anak cucunya. Ini merupakan salah satu tradisi dan lokal genius masyarakat islam Sasak yang harus senantiasa kita pertahankan. Kiranya hanya ini yang dapat penulis paparkan mengenai tradisi Nyekar Makem yang merupakan tradisi tahunan sebagain besar masyarakat Sasak yang dilaksanakan pada setiap momen hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dan banyak pula masyarakat Sasak yang melakukan Nyekar Makam meskipun bukan pada hari raya. Tentunya, semakin sering kita Nyekar (berziarah) ke makam keluarga kita maka pemilik makam yang kita ziarahi itu akan semakin bahagia sebab bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, dzikir dan doa yang kita niatkan untuk arwah si pemilik makam dapat tambahan amal dan penerang mereka di alam sana.

_By. Asri The Gila_      () -01



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan