logoblog

Cari

Tutup Iklan

Mengenal Proses Muna Kain Bima

Mengenal Proses Muna Kain Bima

Saat KM SAMPARAJA mengunjungi Desa Ntobo Minggu (13/9/2015) sebagai Desa yang memproduksi Kain dan Sarung Tenunan Bima, Kami melihat seorang Ibu

Budaya

KM Samparaja
Oleh KM Samparaja
16 September, 2015 07:38:32
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 43230 Kali

Saat KM SAMPARAJA mengunjungi Desa Ntobo Minggu (13/9/2015) sebagai Desa yang memproduksi Kain dan Sarung Tenunan Bima, Kami melihat seorang Ibu yang sedang asik menenun di depan rumahnya, kamipun menghampiri Ibu tersebut dan berkenalan denganya. Ibu tersebut bernama Siti Nur dengan ramahnya mempersilakan kami untuk duduk sembari dia melakukan Muna, kadang tempat Muna dilakukan di bawah kolong rumah panggung tapi kebanyakan Muna dilakukan di depan rumah panggung yang mempunyai `Sampana` yaitu teras rumah panggung adat Bima.

tidak melewatkan kesempatan kami pun bertanya tentang proses Muna pada Ibu Nur yang sudah melakoni Muna dari waktu beliau SD kelas lima hingga sekarang, usia dari Ibu Nur sudah berkepala empat dan mempunyai tiga orang anak.

Sambil melakukan Muna dan membuat pola tenunan dengan benang warna-warni, Ibu Nur menjelaskan proses Muna kepada kami yang dimana tahapan awal dilakukan yaitu `Moro` sebuah proses menggulung benang dengan alatnya yang disebut Janta dan Ngiri yaitu pemintal benang.

Setelah tahapan pertama dilakukan langkah selanjutnya yaitu `Ngane` dimana benang-benang yang di gulung tadi kemudian di susun sesuai pola warna yang di inginkan. Biasanya pola warna yang mendominasi kain atau sarung yang di Muna yaitu warna hitam, merah dan kuning.

Langkah selanjutnya setelah Ngane dilakukan yaitu `Lara dan Luru` di mana benang di bentangkan bisa sepanjang kurang lebih 15 meter panjangnya. Lara dan Luru yaitu menggulung dan meluruskan benang dengan sebuah papan yang disebut Tampe.

Kemudian tahapan selanjutnya yang dilakukan yaitu ‘Cau’ berarti sisir dimana semua benang yang telah di Lara dan Luru tadi di masukkan satu persatu kedalam sisirnya, tahapan ini membutuhkan kesabaran yang sangat ekstra karena harus fokus memasukkan satu persatu hingga hingga mencapai ratusan kedalam cau.

 

Baca Juga :


Setelah semua tahapan Moro, Ngane, Lara dan Luru dan cau maka langkah selanjutnya yang terakhir yaitu menenun atau Muna, seperti yang di jelaskan Ibu Nur dengan sangat detail dan penuh canda tawa.

Untuk menghasilkan sarung dan kain yang sangat bagus kualitasnya maka diperlukan kesabaran dan ketelitian kata Ibu Nur, jika melakukan Muna dengan kesabaran maka akan tercipta kerapian pada sarung atau kain yang di hasilkan. Para wanita Suku Mbojo yang sudah sering Muna, semakin mahir mereka Muna maka akan semakin mereka teliti dan sabar dalam menghasilkan karya yang indah.

Biasanya dalam sebulan sarung atau Tembe Ngoli dalam bahasa Bima, yang dihasilkan minimal tiga atau empat helai karena setiap sarung di tenun dalam waktu 6 hingga 7 hari, satu sarungnya biasa mereka jual seharga Rp. 150.000 untuk motif yang biasa, jika motif yang sangat bagus dan kualitasnya baik satu sarungnya bisa mencapai satu juta. [] - 05



 
KM Samparaja

KM Samparaja

Komunitas Kampung Media Kota Bima Samparaja - Asakota Email : km.samparaja@gmail.com

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan