logoblog

Cari

Joki Cilik Daya Tarik Wisatawan

Joki Cilik Daya Tarik Wisatawan

KM Wadu Nocu Perhelatan pacuan kuda tradisional di Bima sangat unik. Ini disebabkan karena para joki pemacu kuda merupakan anak-anak usia 4-7

Budaya

KM. Wadu Nocu
Oleh KM. Wadu Nocu
13 Agustus, 2015 09:04:38
Budaya
Komentar: 2
Dibaca: 59126 Kali

KM Wadu Nocu; Perhelatan pacuan kuda tradisional di Bima sangat unik. Ini disebabkan karena para joki pemacu kuda merupakan anak-anak usia 4-7 tahun. Aksi para joki cilik ini rupanya menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan asing. 

Pacuan kuda atau dalam bahasa Bima disebut “Pacoa Jara” tampaknya makin menggeliat tumbuh bersama arus modern. Jika sebelumnya, pacuan kuda hanya digelar sekali setahun, tapi seiring meningkatnya minat masyarakat untuk berpartisipasi membuat pacuan digelar 2 hingga 3 kali setahun. 

Dewasa ini, pacuan digelar pada hari-hari besar seperti HUT RI, HUT Kabupaten dan Kota Bima, dan HUT Provinsi NTB. Pacuan kuda ini dilaksanakan dalam bentuk kejuaraan, bahkan melibatkan juga peserta dari daerah lain. Seperti Dompu, Sumbawa, Lombok hingga Sumba NTT. 

Tingginya antusias masyarakat dalam mengikuti turnamen ini, tak pelak membuat wisatawan asing dan datang ke Bima. Mereka menghabiskan waktu untuk menonton pacuan kuda yang menurut mereka sangat unik ini. Pacuan kuda yang sudah membudaya di Bima ini menjadi perhatian khusus karena para joki yang memacu kuda merupakan anak-anak. Hal ini tentu berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Karena para joki didominasi oleh kalangan muda hingga dewasa. 

Terbukti, hari terakhir putaran final pacuan kuda Bima memperingati HUT RI dan HUT Kabupaten Bima 2015 yang berlangsung Minggu (9/8) di arena pacuan Desa Panda beberapa wisatawan asing tampak hadir. Meski tidak banyak, namun pacuan kuda Bima cukup menjadi perhatian wisatawan. Ini menunjukkan, budaya pacuan Bima sudah mulai dikenal di mancanegara.

"Uniknya karena penunggang kuda merupakan anak-anak. Ini sangat berbeda di negara lain. Joki cilik hanya ada di pulau Sumbawa," kata wisatawan asing asal Inggris Barnett melalui guidenya Alamsyah saat ditemui di arena pacuan kuda, kemarin.

 

Baca Juga :


 “Ini merupakan kali pertama saya menonton langsung pacuan kuda tradisional dengan para joki cilik. Saya sangat menyukai ini," tambahnya.

Sementara itu, Kadis Pariwisata Kabupaten Bima Drs Syafruddin yang juga menjadi panitia pacuan mengatakan, pacuan merupakan warisan dari leluhur Bima. Turnamen ini sebagai budaya yang terus dipeomosikan ke mancanegara.

Pemerintah Kabupaten Bima juga menjadikannya sebagai salah satu sektor wisata unggulan. "Arena pacuan itu telah menjadi sarana hiburan warga Bima. Termasuk wisatawan yang ikut bersorak gembira melihat pejoki cilik bertarung," ujanya.

Menurut dia, pacuan tradisional Bima terus dipromosikan demi menarik wisatawan. "Inilah salah satu budaya masyarakat Bima yang hingga kini masih dilestarikan. Semoga, perhelatan ini menjadi ikon wisata yang menjanjikan," tandasnya. (edo) -05



 
KM. Wadu Nocu

KM. Wadu Nocu

Koordinator: Edho Rusyadin, Alamat: Jl. Lintas Tente-Sambori, Desa Runggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima Provinsi NTB, Blog: http://wadu-nocu.blogspot.com/ email: wadunocu08@gmail.com HP: 085237530777

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. KM. Krens-Lotim

    KM. Krens-Lotim

    18 Agustus, 2015

    semangat 45 kembali bangkit. bangkitlah generasi muda NTB


  • KM Kaula

    KM Kaula

    17 Agustus, 2015

    sungguh merupakan cara yang hebat untuk membangkitkan adrenalin. mari pertahankan terus budaya local.


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan