logoblog

Cari

Sambori, Kegigihan Dalam Mempertahankan Adat

Sambori, Kegigihan Dalam Mempertahankan Adat

Masyarakat Desa Sambori, Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima termasuk kuat mempertahankan adat istiadat yang sudah turun temurun dari nenek moyangnya. Salah satu

Budaya

KM Samparaja
Oleh KM Samparaja
22 Juni, 2015 07:51:23
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 55979 Kali

Masyarakat Desa Sambori, Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima termasuk kuat mempertahankan adat istiadat yang sudah turun temurun dari nenek moyangnya. Salah satu tradisi yang kini masih berlansung di sana, yakni dendang Belaleha. Dendang yang dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap Sang Pecipta itu, biasanya dilakukan saat ada acara-acara kematian, pernikahan dan lainnya.

Belaleha bisa diartikan pembacaan petuah dari para leluhur untuk keselamatan hidup maupun nilai kehidupan. Masyarakat Sambori menggelar ritual budaya Belaleha pada waktu acara dilakukan hajatan besar. Saat pesta budaya itu digelar, bukan hanya masyarakat setempat yang bersuka cita. Tapi masyarakat Sambori yang berada di kebun mereka menyempatkan pulang kampung untuk menyaksikan pergelaran Belaleha.

Saat di lakukan Belaleha bisa juga sebagai ajang silaturahmi. Pada saat itu semua masyarakat Sambori berkumpul. Termasuk warga perantauan, mereka datang meramaikan Belaleha. Artinya silaturahmi itu, tidak hanya antarwarga Sambori yang berada di desa, tapi juga warga yang ada di luar kota.

Biasanya ritual Belaleha ini biasa dilangsungkan tiga hari tiga malam. Dalam sejarahnya, semua warga Sambori dalam kurun waktu itu tidak ada yang tidur. Mereka terus memanjatkan doa rasa syukur. Pada bagian lain, diselingi pula acara tari-tarian dan makan bersama.

Biasanya juga banyak tarian yang ditampilkan pada acara-acara di Sambori, seperti Gantao dan Mpa`a Manca yaitu tarian perang dan Mpa`a Lanca adu betis para lelaki. Para perempuan biasanya menampilkan nyanyian Arugele, nyanyian Bola La Mbali, dan Belaleha. Ada pun syair Belaleha yaitu :

Belaleha,

Alona Tembe Kala

Aloyilana matiri nggunggu

Ndoo poda dikatente Cepe

Belaleha

Ria Ese Tolo Reo

Mamuna Tembe me’e ma riu

Dodoku di salampe cempe

Belaleha

Nuri se tolo naru

 

Baca Juga :


Manangi la ntonggu tolu

Oi oluna sacanggi moro

Bela leha

Akadu la joa

Makidi katake hidi

Rasapana ra ngari dompo

Belaleha

Akadu dou matua

Ma wi’ina nggahi karenda

Karenda da mbali mbua

Sebelum berbagai tarian ditampilkan, masyarakat Sambori sudah terbiasa menghidangkan aneka makanan khas kepada para tamu. Bahkan hidangan makanan yang diberikan kepada tamu (per orangnya) cukup banyak. Mulai dari nasi lengkap dengan lauk pauknya, hingga buah-buahan dan aneka cemilan.

Para tamu yang datang sebelum masuk di Desa Sambori harus melakukan salah satu ritual penyambutan yaitu Tapa Gala, dimana salah satu dari perwakilan tamu yang masuk ke desa di haruskan memotong bambu yang telah di sediakan oleh warga Sambori, dimana makna Tapa Gala ini sebagai penghormatan dan penyambutan untuk tamu yang masuk di desa.

Aneka makanan itu dibuat oleh warga Sambori secara bergotong royong dan tanpa perintah lagi. Artinya jika mendengar ada tamu yang akan berkunjung, masing-masing warga biasanya memberikan sumbangan aneka makanan. Tamu dan warga yang berkumpul di salah satu rumah yang hajatan masing-masing membawa porsi yang sama. [] - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan