logoblog

Cari

Tutup Iklan

Berugak dalam Kehidupan Masyarakat Bayan

Berugak dalam Kehidupan Masyarakat Bayan

KM. Sukamulia - Berugak merupakan jenis arsitektur tradisional suku Sasak yang saat ini telah dikenal oleh masyarakat dunia dan bahkan bangunan

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
12 Juni, 2015 11:37:45
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 47351 Kali

KM. Sukamulia - Berugak merupakan jenis arsitektur tradisional suku Sasak yang saat ini telah dikenal oleh masyarakat dunia dan bahkan bangunan berugak sudah diadopsi dan dijadikan sebagai bangunan penghias halaman rumah oleh masyarakat di beberapa negara yang ada di dunia. Dalam kehidupan masyarakat Sasak, bangunan berugak memiliki fungsi yang sangat penting, lebih-lebih bagi masyarakat tradisional yang hidup dengan system arsitetur adat istiadat tradisional mereka. Salah satunya adalah masyarakat Bayan Kabupaten Lombok Utara.

Dalam kehidupan social masyarakat Bayan, berugak memiliki fungsi dan pernaan yang sangat penting. Pada dasarnya seluruh masyarakat Sasak menggunakan berugak sebagai tempat bersantai bersama keluarga dan sebagai tempat menerima tamu. Sedangkan bagi masyarakat Bayan, berugak memili fungsi yang sangat vital, oleh sebab itu bangunan berugak dapat ditemukan pada setiap halaman depan warga setempat.

Masyarakat Bayan juga menggunakan berugak sebagaimana fungsinya secara umum, yaitu sebagai tempat peristirahatan, bersantai bersama keluarga dan sebagai tempat menerima tamu. Menurut konsep adata masyarakat Bayan, masyarakat adat tidak diperbolehkan menerima tamu di dalam rumah dan bahkan jika ada tamunya yang menginap maka tamu tersebut akan tidur di berugak. Selain itu, masyarakat Bayan memfngsikan berugak sebagai pelaksanan ritual adat dan tempat untuk melaksanakan musyawarah (Gundem: Bahasa Bayan).

Untuk lebih jelasnya mengenai fungsi dan kegunaan berugak bagi kehidupan social masyarakat Bayan maka penulis akan menjabarkan secara singkat mengenai jenis-jenis berugak beserta fungsinya. Dalam kehidupan masyarakat Bayan dikenal beberapa jenis berugak, yaitu Berugak Kagungan (Berugak Agung), Berugak Malang, Berugak Pengagean, Berugak Pegat, Berugak Sekepat, Berugak Sekenem, dan Berugak Saka Baluq.

Dalam kehidupan social masyarakat adat Bayan, berugak dibagi menjadi dua jenis, yaitu berugak berdasarkan jumlah tiangnya dan berugak berdasarkan fungsinya. Berdasarkan jumlah tiangnya, berugak dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Berugak Saka Empat (Sekepat)

Berugak Saka Empat adalah berugak yang memiliki empat buah tiang dan tidak ada aturan yang baku mengenai bentuk arsitekturnya. Bagi masyarakat adat Bayan, Berugak Saka Empat hanya dijadikan sebagai berugak tempat peristirahatan yang dibuat di setiap sawah warga.

2. Berugak Saka Enem (Sekenem)

Berugak Saka Enem merupakan berugak yang terdiri dari enam buah tiang penyangga dan umumnya jenis berugak ini dijadikan sebagai bangunan wajib bagi seluruh masyarakat adat Bayan. Setiap rumah warga yang berada di wilayah kampung adat Bayan wajib membangun Berugak Saka Enam di hadapan rumah mereka dan bahkan dalam aturan adat masyarakat Bayan, warga kampong adat tidak boleh mendirikan bangunan berugak Sekepat (bertiang empat) di halaman rumahnya.

Berugaq Saka Enem yang ada di rumah masyarakat adat tidak dibakukan untuk jenis atapnya, mereka boleh membuat atap berugak dari bahan anyaman ilalang (re: bahsa Sasak), anyaman bambu (santek: bahsa Bayan),  anyaman daun kelapa, genteng, seng, atau yang bahan lainnya. Pada bagian bawah berugak harus dibuatkan pondasi, minimal setinggi satu jengkal. Pondasi ini biasanya terbuat dari bahan tanah liat yang dicampur dengan kotoran sapi dan abu. Pada bagian selatan Berugak Sekenem harus ditutup dengan pagar bedek atau anyaman pecahan bambu kasar sebab bagian ini biasa difungsikan sebagai tempat tidur anak laki-laki dan ada juga warga yang menggunakannya sebagai tempat memasak (dapur).

Bagian utara berugak yang tidak diberikan pagar/dinding secara umum difungsikan sebagai tempat makan bersama pada puncak acara ritual adat yang dilaksanakan oleh setiap masyarakat adat Bayan, sebagai tempat ritual potong rambut anak yang baru lahir (mengkuris: bahasa Bayan), tempat menerima tamu, jika tamunya menginap maka sekaligus sebagai tempat menginapnya, tempat menyolatkan jenazah, tempat untuk mengaji pada acara kematian, dan sebagai tempat membaca lontar (bepaosan: bahasa Bayan) bagi para pemaca pada saat ritual-ritual tertentu seperti pada saat pelaksanaan gawe nyunatang (kitanan) dan kurisan, serta sebagi tempat dilaksanakannya khitanan.

Masyarakat adat Bayan diwajibkan untuk mendirikan Berugak Sekenem di setiap halaman rumah mereka dengan tujuan untuk menjaga silaturrahmi dan hubungan social antar warga. Oleh sebab itulah, Berugak Sekenem selalu didirikan diantara dua rumah. Jika terdapat tamu diantara dua keluarga maka semua memiliki hak untuk menggunkan berugak tersebut, keluarga yang satu disebelah utara dan keluarga yang lainnya di sebelah selatan begitu juga sebaliknya.

3. Berugak Saka Baluq (Saba)

Berugak Saka Baluq adalah jenis bangunan berugak yang dibuat dengan tiang penopangnya yang berjumlah delapan. Jenis berugak ini hanya terdapat di wilayah Dusun Batu Gerantung Desa Loloan Kecamatan Bayan. Berugak ini memiliki tiang sebanyak delapan, atapnya terbuat dari anyaman ilalang. Berugak ini difungsikan sebagai tempat berkumpulnya para tokoh adat untuk mengekskusi orang yang malakukan pelanggaran adat yang sangat berat, seperti melakkan penganiayaan dan pembunuhan. Masyarakat adat Bayan yang melakukan pelanggatan berat akan diberikan sanksi yang berat pula, yaitu dibunuh atau dihanyutkan ke dalam laut.

Berdasarkan fungsinya berugak dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

 

Baca Juga :


1. Berugak Kagungan (Berugak Agung)

Berugak Kagungan merupakan Berugak Saka Enem (sekenem) yang dibangun di dalam setiap Rumah Agung/rumah tempat penyelesaian seluruh ritual adat (Kampu: bahasa Bayan) yang berada di setiap Dusun Tradisional Bayan. Berugak ini memiliki atap yang terbuat dari anyaman ilalang. Pada bagian samping Berugak Agung tidak ditutupi oleh apapun, layaknya berugak-berugak yang ada di masing-masing rumah warga. Bagian bawah berugak jenis ini tidak diberikan pondasi dari tanah ataupun dari bahan semen, hanya saja tiang-tiang penyangga berugak  diletakkan di atas batu yang berfungsi sebagai penopang tiang (cendi: bahasa Bayan) supaya setiap tiang berugak tidak menyentuh tanah. Cendi ini memiliki fungsi untuk menjaga tiang berugak supaya tidak basah oleh air ketika terjadi musim hujan sehingga tiang berugak tidak cepat melapuk/rapuh (lebung: bahasa Sasak).

Berugak Agung berfungsi sebagai tempat meriap (makan bersama) pada puncak acara ritual adat yang dilaksnakan di Kampu Karang Bajo, fungsi lainnya adalah sebagai tempat majang (menghiasi berugak) dan memblonyo pada saat ritual Maulid Adat (Idul Fitri secara Adat). Berugak ini juga merupakan sebagai tempat musyawarah besar (Gundem) untuk membicarakan pengangkatan pejabat adat, pelaksanaan ritual adat tertentu, dan juga untuk menetapkan sanksi jika terdapat Masyarakat Adat yang melanggar ketentuan Adat, serta sabagai tempat untuk Mengageq (Ancak).

2. Berugak Malang

Berugak Malang adalah bangunan berugak yang dibuat di sebelah timur bangunan Berugak Agung yang berada di dalam kampu. Bentuk arsiektur Berugak Malang tidak jauh berbeda dengan bantuk arsitektur Berugak Agung, dimana bagian bawahnya tidak memiliki pondasi dan hanya memiliki cendi. Atapnya juga terbuat dari anyaman rumput ialalang (re: bahasa Sasak). Berugak ini juga memiliki tiang enam dan bagian sampingnya tidak ditutupi oleh apapun. Perbedaan Berugak Agung dengan Berugak Malang adalah hanya pada fungsinya saja.

Berugak Malang berfungsi sebagai tempat untuk menaruh dan memainkan alat musik gong (gerantungan: bahsa Bayan) pada saat dilaksanakannya prosesi persiapan ritual  dan Lebaran Tinggi (Idul Fitri). Selain itu berugak jenis ini difungsikan sebagai tempat untuk mengikat kambing yang dibawa oleh masyarakat adat pada saat persiapan ritual Maulid Adat dan Lebaran Tinggi. Sebelum dipotong/disembelih, kambing-kambing tersebut di ikat pada setiap tiang bagian bawah berugak. Fungsi lain  dari Berugak Malang adalah sebagai tempat mengumpulkan semua ternak yang telah dipotong untuk dicincang menjadi bagian yang kecil-kecil.

3. Berugak Pengagean

Berugak Pengagean merupakan berugak yang didirikan di dimana areal pekarangan rumah (Gedeng: bahasa Bayan) Perumbaq Tengaq yang disebut juga dengan istilah Amaq Lokaq Gantungan Rombong. Bentuk Berugak Pengagean sama persis dengan bentuk dua jenis berugak di atas, yang membedakannya adalah fungsinya saja. Berugak Pengagean berfungsi sebagai tempat untuk menyajikan semua makanan dalam sebuah wadah yang disebut sampak/dulang. Berugak ini hanya difungsikan sebagai tempat menyajikan makanan pada setiap dilakukannya ritual adat sebelum dilaksnakan acara makan bersama (periapan: bahasa Bayan).

4. Berugak Pegat

Berugak Pegat merupakan jenis berugak bertiang delapan, dimana empat tiang sebelah utara dan selatan berbentuk saka emapat yang dipagar menggunakan anyaman bambu, sedangkan bagian tengahnya terputus walaupun atapnya terhubung antara bagian utara dan selatannya, artinya pada pagian tengah tidak diberikan pagar/dinding penutup. Berugak Pegat didirikan di depan gedeng Karang Pande.  Dan di sebelah barat Berugak Pegat didirikan bangunan rumah (gedeng) pejabat adat yang disebut dengan istilah Amaq Lokaq Pande.

Fungsi utama dari Berugak Pegat adalah sebagai tempat untuk membicarakan dan menyelesaikan masalah perkawinan masyarakat adat Bayan. Selain itu Berugak Pegat juga berfungsi sebagai tempat untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam prosesi ritual adat masyarakat Bayan sebelum barang-barang itu dibawa dan disajikan di atas Berugak Agung. Fungsi lain dari Berugak ini adalah sebagai tempat mengambil keputusan terkait dengan semua permasalahan perubahan aturan adat yang terjadi dalam kehidupan social masyarakat adat.

Demikianlah jenis berugak dalam kehidupan social masyarakat Bayan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi yang berguna bagi para pembaca. Semoga pula informasi ini dapat dijadikan sebagai refrensi oleh siapa saja yang membutuhkan informasi yang terkait dengan masalah berugak dan fungsinya dalam kehidupan social masyarakat Bayan pada khususnya dan masyarakat pulau Lombok pada umumnya. Mohon maaf atas segala kekurangan, terimakasih atas segala perhatian dan salam dari kampong.

_By. Asri The Gila with Renadi_ [] - 05



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan