logoblog

Cari

Tutup Iklan

"Ponggok Peraja" Atraksi Budaya Sasak

KM. Sukamulia – Ponggok Peraja, begitulah masyrakat Pringgabaya dan sekitarnya menyebut atraksi budaya yang biasa dipagelarkan sebagai kelengkapan pelaksanaan prosesi perkawinan

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
07 Mei, 2015 10:51:53
Budaya
Komentar: 12
Dibaca: 10800 Kali

KM. Sukamulia – Ponggok Peraja, begitulah masyrakat Pringgabaya dan sekitarnya menyebut atraksi budaya yang biasa dipagelarkan sebagai kelengkapan pelaksanaan prosesi perkawinan adat Sasak dan sering juga dipagelarkan sebagai kelengkapan pelaksaan prosesi khitanan pada masyarakat Suku Sasak. Alat yang digunakan dalam atraksi Ponggok Peraja adalah Ponggoan yang terbuat dari kayu dengan bentuk kuda yang dihiasi dengan berbagai bentuk ornament.

Secara harpiah, Ponggok Peraja berasal dari dua suku kata bahasa sasak, yaitu “Ponggok” yang artinya usung/tandu/kencana dan “Peraja” berarti orang-orang yang dimuliakan. Mengacu dari makna kata tersebut maka istilah Ponggok Peraja dapat diartikan sebagai alat usung/tandu/kencana yang digunakan untuk mengusung orang-orang yang dimuliakan. Alat yang digunakan dalam atraksi Ponggok Peraja berupa tandu (ponggoan: bahsa Sasak) yang terbuat dari kayu dengan bentuk kuda yang dihias dengan berbagai jenis ornamen.

Menurut keterangan yang kami dapatkan, pada awalnya Ponggok Peraja hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja, misalnya golongan keluarga kerjaan dan golongan bangsawan pada masa klasik. Ponggoan yang berupa kuda kayu ini biasa digunakan untuk menandu raja atau keluarga rajadan bangsawan kerajaan pada saat melakukan suatu perjalanan dan pada saat mereka melaksanakan upacara perkawinan. Pada tahap perkembangannya, penggunaan Ponggok Peraja semakin meluas. Pada zaman modern, Ponggok Peraja difungsikan secara luas khususnya pada masyarakat sekitar wilayah Pringgabaya dan Suela. Atraksi budaya ini biasa dilakukan pada puncak prosesi tradisi perkawainan yang dikenal dengan istilah nyongkolan dan acara puncak tradisi khitanan.

Pada puncak prosesi perkawinan, Ponggok Peraja digunakan untuk memandu/mengusung pengantin dalam perjalanan menuju rumah keluarga mempelai perempuan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlambangan akan betapa tingginya nilai perkawaian yang diikat oleh aturan agama dan aturan-aturan adat. Dilaksanakannya nyongkolan dengan menggunakan atraksi Ponggok Peraja juga merupakan perlambangan bahwa sepasang suami istri adalah sosok raja dan ratu yang akan memimpin bahtera keluarganya untuk mengarungi samudera dalam ikatan yang suci. Ibarat raja dan ratu, sepsang pengantin baru ditandu dengan ponggoan kuda yang masing-masing ponggoan ditandu oleh empat orang. Bukan hanya itu, dalam pagelaran Ponggok Peraja, sang pengantin dipayungi dengan payung agung dan dibelakangnya para pengiring dan sanak keluarga berjalan beriringan.

Pada puncak prosesi khitanan, Ponggok Peraja biasa digunakan untuk menandu/mengusung anak yang akan dihitan. Biasanya itu dilaksanakan pada saat akan dilakukannya Mandik Peraja, yaitu prosesi memandikan anak yang akan dikhitan. Anak yang akan dihitan inilah yang disebut dengan peraja (orang yang dimuliakan). Dalam konsep budaya masyarakat Pringgabaya dan sekitarnya, khitanan sering disebut dengan istilah nyelamin (mengislamkan) sebab anak-anak yang belum dikhitan dianggap masih kotor sehingga dengan diadakannya khitanan dan mereka dianggap benar-benar suci sebagi penganut agama Islam setelah dikhitan. Sebelum, dan sesudah anak yang akan dihitan dimandikan, ia ditandu menggunakan berkeliling kampong dengan menggunakan Ponggoan Kuda, itulah sebabnya atraksi ini disebut dengan istilah Ponggok Peraja. Pagi hari, sebelum anak dikhitan, anak itu juga akan dipandu berkeliling kampong dengan atraksi Ponggok Peraja. Hal ini dilakukan sebagai perlambangan betapa mulia dan sakralnya pelaksanan khitanan dalam budaya suku Sasak dan agama Islam.

Atraksi Ponggok Peraja biasa diiringi oleh musik tradisional Gendang Beleq atau sekarang lebih banyak menggunakan kecimolan. Sepanjang perjalanan, para pemain Ponggok Peraja berjalan sambil menari-nari (ngecok: bahasa Sasak) mengikuti irama music yang dimainkan oleh para pemain music tradisional yang berada di belakang mereka. Pentas atraksi budaya yang satu ini sangatlah digemari oleh masyarakat Suku Sasak, jika ada pementasan Ponggok Peraja, warga akan berdiri di kirikanan jalan untuk menyaksikannya. Sedangkan pengantin atau anak yang akan dikhitan duduk manis di atas punggung kuda dengan pakaian kebesaran yang mereka gunakan. Pemegang payung agung juga tidak kalah atraktif, mereka menari-nari mengikuti irama music tradisonal dan bahkan tidak jarang mereka yang sampai lupa untuk melakukan tugasnya untuk memayungi peraja yang dipandu di atas punggung kuda kayu.

 

Baca Juga :


Kini atraksi budaya yang disebut dengan nama Ponggok Peraja itu sudah mulai memudar. Atraksi budaya tersebut sudah jarang ditampilkan pada pelaksanaan puncak prosesi perkawinan dan khitanan. Padahal pada saat saya masih kecil hingga SMP, atraksi tersebut selalu dilakukan pada setiap puncak acara perkawanian dan khitanan masyarakat Dusun Sukamulia dan masyarakat sekitar wilayah Pringgabaya lainnya. Waktu itu banyak sekali kelompok-kelompok pemain Ponggok Peraja yang tersebar di beberapa desa yang ada di sekitar wilayah Kecamatan Pringabaya dan Suela. Namun sejak saya SMA hingga saat ini, pagelaran tersebut agak jarang ditampilkan. Namun demikian, saat ini masih ada beberapa kelompok pemain Ponggok Peraja yang masih eksis dan sering diundang dan digunakan untuk mengisi acara puncak khitanan dan perkawianan pada masyarakat Kecamatan Pringgabaya.

Perlu diketahui bahwa Ponggok Peraja biasanya memiliki nilai mistis, para pemainnya rata-rata sudah dibekali dengan pengetahuan mistis. Oleh sebab itu, sebelum Ponggok Peraja dipentaskan, pemilik ponggoan harus melaksanakan suatu ritual untuk memohon keselamatan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada saat dilaksanakannya pagelaran. Anak atau pengantin yang akan diponggok/ditandu harus disembek terlebih dahulu, sedangkan ponggoan harus dimandikan dengan air bunga rampai. Jika tidak dilakukan ritual terelbih maka tidak jarang terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat dilaksanakannya atraksi, misalnya saja kerasukan (kembangruan: bahasa Sasak). Atraksi-atraksi budaya lokal memang tidak terlepas dari nilai mistis, oleh sebab itu seseorang tidak boleh meremehkannya.

Selain Ponggok Peraja, banyak pula atraksi budaya lokal suku Sasak yang sudah mulai langka dipertunjukkan. Hal ini cukup memperihatinkan bagi kita selaku pemerhati budaya dan oleh sebab itu kami sangat mengharapkan peranan penting pemerintah yang bertugas dalam bidang ini supaya atraksi-atraksi budaya lokal kita tidak hilang ditelan masa. Padahal atraksi-atraksi budaya lokal tersebut memiliki makna dan nilai yang tinggi dalam system kebudayaan kita. Atraksi budaya itu juga merupakan kekayaan lokal genius masyrakat sasak yang sangat penting untuk sama-sama kita perhatikan dan lestarikan. () -01

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

12 KOMENTAR

  1. Pangkat Ali

    Pangkat Ali

    16 Desember, 2016

    Ngiring...smeton jari batur Sasak....Save Our Gumi Paer, Lombok....salam.....


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      17 Desember, 2016

      Ngiring sanak agung,,, salam karya dan semoga kita terus dan terus bisa melakukan Save Our Gumi Paer mealui tulisan-tulisan budaya yang kita publikasikan di halaman Kampung Media.


  2. KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    08 Mei, 2015

    ide tulisan bagus, namun kalau boleh dicantumkan lokasi kabuptennya biar orang luar tahu kalau lombok timur kaya dengan adat tradisional yang masih bertahan...


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      08 Mei, 2015

      terimakasih atas kritik dan sarannya pak,,, di dalam artikel itu saya sudah menyebutkan nama Pringgabaya dan Suela sebab tidak ada nama Pringgabaya dan Suela selain di wilayah administratif Kabupaten Lombok Timur. Jadi kiranya itu sudah cukup jelas bahwa Ponggok Peraja itu merupakan salah satu Atraksi BUdaya masyarakat suku sasak yang ada di wilayah Lombok Timur. Salam dari Kampung...


  3. KM. Mumbul Sari

    KM. Mumbul Sari

    08 Mei, 2015

    MasyaAllah... keren pak guru


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      08 Mei, 2015

      Atraksi budayanya keren,,, saya bangga pernah merasakan bagaima indah dan bahagianya di Ponggok Peraja... hahaaa


  4. KM Kaula

    KM Kaula

    08 Mei, 2015

    ketika saya kecil dulu, saya pernah melihat praja lewat di kampung saya saya tidak tau dari mana asalnya karena waktu itu saya masih kecil. tapi sekarang saya tidak pernah lagi melihat itu, jadi nanti kalau ada event seperti itu ditempat lain saya kepingin lagi melihatnya.


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      08 Mei, 2015

      Peraja masih sering dipentaskan pada acara khitanan dan nyongkolan pada masyarakat Kecamatan Pringgabaya. Hingga saat ini masih banyak warga sekitar yang menggunakan atraksi budaya ini, terutama kami yang ada di Dusun Sukamulia. Waktu saya dikhitan, saya juga naik Praja makanya waktu saya khitan putra pertama saya, ia juga saya sewakan Ponggok Peraja dan pada minggu lalu ada warga Dusun Sukamulia yang menggunakan Peraja saat acara nyongkolannya.... Kapan-kapan kalau ada peraja di sukamulia, nanti saya kasih tau pelungguh agar pelungguh dapat menyaksikannya secara langsung,,, heheee, terimaksih atas komentarnya dan Salam dari Kampung.


  5. M Aryza Anwar

    M Aryza Anwar

    07 Mei, 2015

    Dulu waktu kecil saya gak brani di "ponggok praja" saya takut.. Menarik artikelnya pak


    1. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      10 Mei, 2015

      Terimakasih KM. Nggusu Waru atas komentarnya dan Salam dari Kampung...


    2. KM Nggusu Waru

      KM Nggusu Waru

      08 Mei, 2015

      betul-betul mantap KM Sukamulia


    3. KM. Sukamulia

      KM. Sukamulia

      08 Mei, 2015

      Terimakasih saudara Arzany, semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua, khusunya dalam memahami salah satu atraksi budaya sasak yang saat ini sudah mulai memudar dari peredaran.... Hehee,,, waktu saya kitanan dulun saya juga takut banget naik Ponggok Peraja, tetapi setelah saya bertengger di punggung kuda kayu, saya tidak mau turun lagi sebab naik Ponggoan ternyata asik banget...


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan