logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tampah Wirang

Tampah Wirang

KM. Sukamulia - Tampah Wirang merupakan suatu prosesi atau ritual penyembelihan kerbau dan pemberkatan perkawinan atau mentikah yang diselenggarakan di kampung

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
19 Desember, 2014 21:48:21
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 8163 Kali

KM. Sukamulia - Tampah Wirang merupakan suatu prosesi atau ritual penyembelihan kerbau dan pemberkatan perkawinan atau mentikah yang diselenggarakan di kampung halaman mempelai wanita. Pada pelaksanaan acara Tampah Wirang dilakukan juga penyerahan Sajikrama dari pihak pengantin laki-laki kepada orang tua/keluarga mempelai perempuan. Setelah Sajikrama diserahkan maka barulah dilaksanakan pernikahan (mentikah) yang dilaksanakan di Santeren Kampu yang ada di kampung pihak mempelai perempuan dan prosesi puncaknya adalah penyembelihan kerbau (Tampah Wirang) sebagai simbol penebus rasa malu pihak keluarga mempelai laki-laki atas kelakuan anaknya yang melarikan/mencuri pengantin wanita.

Sistem perkawinan masyarakat Bayan dilakukan sejak sebelum masuknya Agama Islam di Pulau Lombok, dimana pada zaman dahulu jika seorang ank laki-laki yang sudah dianggap sudah dewasa pada kalangan masyarakat Bayan, maka ia disarankan untuk memilih atau mencari seorang wanita sebagai teman hidupnya. Adapun mereka dianjurkan untuk memilih pisaq atau misan, perkawinan masarakat Bayan pada dasarnya dilaksanakan dengan sistem perjodohan dengan pisak atau misan yang menurut konsep masyarakat setempat hal ini dilakukan untuk menyambung tali kekeluargaan (nyambung matan benang: Bahasa Sasak) artinya supaya garis keluarga tidak terputus. Menurut masyarakat setempat hal ini bersumber dari sejarah Nabi Adam yang menjodohkan anak-anaknya untuk melakukan perkawinan serumpun. Namun setelah masuknya Agama Islam sistem perjodohan ini tidak ditekankan atau dengan kata lain masyarakat diberi kebebasan untuk memilih wanita idamannya masing-masing untuk dijadikan sebagai istri.

Pada tahap perkembangannya sistem perkawinan masyarakat Bayan dikolaborasikan dengan cara-cara Islam, hanya saja yang lebih menonjol dalam pelaksanaannya adalah prosesi adat dan peranan-peranan tokoh adat lebih menonjol dibandingkan dengan tokoh Agama Islam, begitu pula dengan hukum-hukum dalam pelaksanannya. Adapun mengenai cara-cara pelaksanan perkawinan bersumber dari adat yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat, cara-cara dalam pelaksanan perkawinan adat tersebut masih dilaksanakan hingga sekarang.

Persepsi masyarakat Bayan tentang sistem perkawinan adalah didasarkan pada garis keturunan dimana yang dinamakan keluarga oleh masyarakat Bayan adalah terdiri dari ayah, ibu, dan anak cucu.dalam hal perkawinan pada masyarakat Bayan dibahas secara mendetail dengan sistem-sistem yang berlaku didaerah tersebut dan tertata rapi dengan hukum-hkum yang mutlak. Pada dasarnya perkawinan pada masyarakat Bayan diikat oleh sistem adat dengan cara perjodohan, dengan keluarga dekat misalnya, pada zaman dahulu sebelum seorang anak laki-laki yang sudah dianggap dewasa maka dia akan dijodohkan oleh orang tuanya dan disarankan untuk memilih saudara sepupu perempuanya (pisaq) baik yang dari garis ayah ataupun garis keturunan ibu.

Dalam pelaksanaan system perkawiannnya masyarakat Bayan memiliki atauran-atran tersendiri. Jika terjadi perkawinan antara paman/bibik dengan keponakannya maka perkawiana tersebut mutlak untuk dicegah, sedangkan jika terjadi perkawinan antara paman/bibi dengan anak sepupunya maka tidak perlu diadakan pencegahan. Perkawinan yang terjadi antara laki-laki dengan anak perempuan paman/bibi maka itu dianjurkan. Perinsif diadakannya perkawinan dengan sistem perjodohan ini (dijodohkan dengan garis keluarga) adalah untuk menjaga keutuhan masyarakat atau komunitas adat Bayan.

Pada tahap perkembangannya sering juga terjadi perkawinan yang bukan dengan anggota keluaraga artinya berasal dari keluarga lain dan bahkan sering terjadi perkawinan dengan orang luar kelompok atau perkawinan yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan yang berasal dari kampung, desa, kecamatan atau daerah lain. Baik perkawinan dengan pola perjodohan maupun tidak harus melewati tahapan-tahapan adat dalam pelaksanannya. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalu oleh seseorang dalam melaksanakan sistem perkawinan pada masyarakat Bayan adalah dilakukan secara sistimatis dan sesuai dengan aturan adat yang berlaku menyeluruh dan mutlak. Salah satu tahapan yang cukup menarik dan unik dan hanya dilakukan oleh masyarakat Bayan dalam tradisi perkawinannya adalah ritual Tampah Wirang.

Untuk lebih jelasnya mengenai prosesi pelaksanaan tradisi Tampah Wirang, berikut ini penulis akan menceritakan secara rinci mengenai beberapa tahapan yang harus dilalui dalam pelaksanaan ritual tersebut:

1. Penyerahan Sajikrama (Sorong Serah Ajikrama)

Tahapan pertama dari ritual tampah wirang adalah penyerahan sajikrama (sorong serah ajikrama) yaitu penyerahan harta yang menjadi denda kawin lari (sajikrama) oleh pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga mempelai perempuan sebagaimana aturan yang telah ditetapkan oleh keluarga mempelai perempuan dan telah disampaikan oleh seorang utusan dari keluarga mempelai perempuan yang disebut dengan pembayun kepada pihak keluaraga laki-laki. Sajikrama ini dibawa oleh rombongan keluarga mempelai laki-laki yang dilakukan dengan jalan kaki sampai kerumah keluarga mempelai perempuan dengan diiringi oleh arak-arakan kesenian gendang beleq.

Besarnya sajikrama pada sistem perkawinan masyarakat Bayan sudah ditetapkan oleh adat, besar kecilnya jumlah sajikrama ditentukan berdasarkan status keturunan mempelai perempuan yaitu: (a) jika mempelai perempuan berasal dari keturunan Datu maka besar sajikramanya adalah 49.000 kepeng bolong, kerbau 12 ekor, kain putih 2 lempir (lembar), beras serombong dan memangan (tombak) tiga batang, (b) jika mempelai perempan berasal dari keluarga atau keturunan Raden maka besar sajikramanya adalah 6.000 kepeng bolong, kerbau 8 ekor, kain putih dua lempir, beras serombong, dan tomabak tiga batang, (3) jika mempelai perempuan berasal dari keturunan Lalu/Permamiq maka sajikramanya sejumlah 6.000 kepeng bolong, kerbau 4 ekor, kain putih dua lempir (lembar), beras serombong, dan tombak 3 batang, sedangkan (4) jika mempelai perempuan berasal dari keturunan Panjak/Jajar Karang (masyarakat biasa) sajikramanya berjumlah 4.000 kepeng bolong, 1 ekor kerbau, 2 lempir kereng puteq (kain putih), Serombong beras, dan 3 batang tombak. Jika pihak mempelai laki-laki tidak dapat membayar barang-barang sajikrama tersebut maka dia tidak boleh melekukan acara tampah wirang yang merupakan puncak dari acara perkawinan yang dilakukan oleh masyarakat Bayan atau dengan kata lain perkawinannya dikatakan belum syah secara adat.

Makna dari benda-benda sajikrama tersebut adalah sebagai bayar atau penebus adat dan sebagai penebus atas kesalahan yang telah dilakukan oleh mempelai laki-laki yaitu kelakuannya yang telah mencuri mempelai perempuan, sehingga adat tidak dianggap enteng dan dilecehkan oleh anggota masyarakat setempat lebih-lebih masyarakat luar daerah Bayan. Sedangkan benda-benda yang ditentukan dalam sajikrama seperti uang bolong, kerbau, kain putih, beras dan tombak memiliki makna tersendiri juga bagi masyarakat setempat adapun makna dari masing masing benda sajikrama tersebut adalah:

1. Kepeng Tepong (uang bolong) sebagai penebus atau harga dari mempelai perempuan, uang bolong ini dibagikan kepada keluarga perempuan (Sana Kadang Bangsa). Makna yang terkandung dalam uang bolong ini adalah sebagai perlambangan kebulatan tekat mempelai laki-laki untuk mengawini mempelai perempuan dan sebagai penebus keperawanan Si mempelai perempuan yang telah digauli oleh mempelai laki-laki sebelum Ia melakukan nikah adat yang dianggap sebagai pernikahan yang sah oleh masyarakat setempat.

2. Kerbau dan beras digunakan sebagai perlengkapan dalam puncak prosesi perkawinan yaitu pelaksanaan ritual tampah wirang dan dilanjutkan dengan pelaksanaan nikah adat. Makna dari kerbau dan beras adalah sebagai perlambangan penebus rasa malu keluarga mempelai perempuan yang telah dilarikan anaknya.

3. Kain putuh dan tombak bermakna sebagai penyerahan dari pihak laki-laki artinya jika kelakuannya yang telah memulang (melariakan) si gadis dianggap salah oleh keluarga mempelai perempuan maka tombak untuk membunuhnya dan kain putih untuk membungkus mayatnya, selain itu kain bewarna putih adalah perlambangan kesucian mempelai perempuan sedang tombak adalah perlambangan tanggung jawab mempelai laki-laki akan istrinya dan dengan tombak itu Ia akan selalu menjaga istrinya dari bahaya apapun.

Prosesi pelaksanan sorong serah sajikrame ini sangat rapi dan teratur, hal ini menggambarkan bahwa tradisi adat perkawinan masyarakat Bayan memang sangat teratur dan tertata rapi. Saat dilaksanakannya acara penyerahan sajikrama, Pembayun sebagai ketua rombongan berada pada bagian paling depan dengan menggunakan pakaian adat lengkap, beliau berjalan dengan langkah yang teratur pula, di belakang pembayun berjalan kelompok laki-laki dari pihak keluarga mempelai laki-laki dengan barisan yang rapi sambil membawa harta (arta) atau barang-barang sajikrama berupa tombak, keranjang bambu (rombong) yang berisi perlengkapan untuk pelaksanaan ritual tampah wirang seperti beras dan ragi, piring-piring yang penuh dengan uang bolong, serta pada bagian baris paling belakang beberapa orang laki-laki membawa kerbau (wirang). Biasanya rombongan pengantar sajikrama ini diiringi oleh kesenian tradisional yaitu gamelan ataupun gendang beleq yang berada dibelakang barisan rombongan pembawa harta atau barang-barang sajikrama.

Sesampai di rumah pihak keluarga mempelai perempuan, mereka disambut langsung oleh seorang utusan dari keluarga mempelai perempuan yang disebut dengan pembayun pihak nine. Sebelum pembayaun dari pihak keluarga mempelai perempuan ini mempersilahkan rombongan tersebut untuk memasuki pekarangan rumah keluarga mempelai perempuan, terlebih dahulu pembayun dari pihak keluarga mempelai laki-laki berbicara kepada pembayun pihak mempelai perempuan selama beberapa saat, setelah kedua pembayun tersebut selesai berbicara maka rombongan pengantar sajikrama dari pihak mempelai laki-laki tersebut dipersilahkan duduk pada tempat yang telah disediakan. Selanjutnya pembayun dari kedua belah pihak duduk berhadap-hadapan, sedangkan rombongan lainnya duduk di belakang pembayun beserta sana kadang bangsa (keluarga dekat pihak perempuan). Rombongan pengatar sajikrama duduk pula di belakang  pembayun-nya, Setelah keadaan tenang maka pembayun dari pihak laki-laki segera membuka acara tersebut dan selanjutnya kedua pembayun baik dari pihak lagi maupun perempuan terlibat dalam sebuah dialog yang sangat seru dan panjang. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa asli Sasak atau bahasa alus yang sulit kita mengerti apa maksudnya. Keluarga dari pihak mempelai perempuan seperti keluarga dekat, pemangku adat, pembekel adat, dan toaq lokaq yang kesemuanya duduk di atas berugaq kagungan menunggu pembicaraan antara kedua pembayun selesai. Setelah debat selesai maka pembayun dari pihak laki-laki menyerahkan barang-barang sajikrama yang telah ditentukan oleh keluarga mempelai wanita, selanjutnya barang-barang sajikrama tersebut diterima oleh pembayun dari pihak mempelai perempuan, kemudian pembayun mengutus dua orang dari keluarga dekat mempelai wanita untuk membawa barang-barang tersebut ke atas berugak kagungan dan memeriksa kelengkapan barang-barang sajikrama tersebut apakah sudah pas ataukah tidak dan jika barang-barang sajikrama tersebut ada kekurangannya, maka harus segera dilengkapi dan jika barang-barang sajikrama-nya sudah sesuai dengan ketentuan yang telah diputuskan oleh keluarga mempelai perempuan maka lunaslah hutang dari mempelai laki-laki dan bolehlah Ia melaksanakan ritual tampah wirang. 

Kedua utusan tersebut melaporkan tentang kelengkapan sajikrama yang telah dibawa oleh pihak laki-laki kepada keluarga mempelai wanita yang duduk di atas berugaq kagungan yaitu keluarga dekat, pemangku adat, pembekel adat, dan toaq lokaq. Sebelum acara ini ditutup pembekel adat memeriksa benda-benda tersebut secara seksama dan dilakukan berulang-ulang sampai para hadirin benar-benar menyaksikan atas keberadaan barang-barang tersebut, selanjutnya dedaosan atau kepeng bolong yang dibungkus dengan kain putih dibuka oleh penghulu sebagai perlambangan bahwa segala dosa kedua mempelai selama berhubungan telah terhapuskan, lalu kepeng bolong tersebut dibagi-bagikan kepada pihak keluarga mempelai perempuan. Akhir dari acara ini adalah doa bersama yang dipimpin oleh kiyai kagungan dari pihak mempelai perempuan dan setelah doa selesai kedua belah pihak saling berjabat tangan, maka barulah utusan dari pihak keluarga laki-laki beseta rombongannya boleh beranjak dari tempat dan selanjutnya berpamitan pulang.

2. Pelaksnaan ritual Tampah Wirang

Setelah acara sorong serah ajikrama dilakukan maka dalam prosesi perkawinan adat masyarakat Bayan diadakan sebuah acara yang disebut dengan acara tampah wirang yaitu acara penyembelihan kerbau yang telah dibawa oleh pihak mempelai laki-laki. Pelaksanaan acarai tampah wirang sangat sistematis dan melibatkan semua anggota masyarakat setempat. Dalam acara tampah wirang ini diadakan periapan besa-besaran dengan menyembelih kerbau dan periapan-periapan atau masakan-masakan yang dibuat pada acara ini akan dimakan bersama-sama serta sebagai jamuan bagi keluarga mempelai laki-laki, keluarga mempelai perempuan dan semua pihak yang akan menghadiri acara nikah adat yang merupakan puncak dari prosesi perkawinan adat pada masyarakat Bayan.

Pelaksanaan acara tampah wirang sangat teratur sebagaimana yang telah dijelaskan di atas yakni pembagian jenis pekerjaan pada acara ini didasarkan atas jenis kelamin. Golongan laki-laki bertugas menyelesaikan masalah wirang yakni dari memotong kerbau, menguliti, memasak daging kerbau, hingga membaginya (menghidangkannya). Sedangkan golongan perempuan bertugas mempersiapkan masalah hidangan berupa jajan, urusan beras hingga memasak dan menyajikannya.

Acara tampah wirang merupakan acara yang dilakukan untuk mempersiapkan gawe nikah atau pernikahan adat dengan menyembelih kerbau yang telah diserahkan oleh pihak mempelai laki-laki, petugas dalam acara ini sudah ditetapkan sesuai dengan tugas masing-masing artinya dalam acara ini petugas untuk mengatur beras, jangan, pelengkapan dan sebagainya telah ditentukan dan mengerjakan tugas mereka masing-masing tanpa mencampuri urusan atau tugas bagian laian, yang menjadi kordinator dari kesemua bagian tersebut adalah seorang belian yaitu seorang wanita yang diaggap pintar oleh masyarakat.

Perlu diketahui bahwa acara tampah wirang dikordinator oleh beberapa perangkat yaitu :

1) Inan Meniq

Inan Meniq bertugas untuk mengurus bagian beras, mulai dari perkiraan penghabisan beras selamam pelakasanaan acara tampah wirang dari awal hingga selesainya. Inan meniq juga bertugas untuk memimpin ritual pembersihan beras sebelum dimasak yaitu sehari sebelum puncak acara tampah wirang dilaksanakan, setelah bersih maka beras tersebut diserahkan kepada inan pedangan (inan nasiq). Dalam melaksanakan tugasnya Inan Meniq ini dibantu oleh perempuan lainnya.

2) Inan Pedangan (Inan Nasiq)

Inan Nasiq mulai melaksanakan tugasnya apabila beras sudah dibersihkan dan diserahkan kepadanya oleh inan meniq. Inan Nasiq ini bertugas untuk memasak nasi dan menyajikannya hingga acara ritual tampah wirang usai. Saat menjalankan tugasnya, inan nasiq dibantu oleh para wanita anggota masyarakat setempat seperti halnya inan meniq.

 

Baca Juga :


3) Aman Jangan

Aman Jangan bertugas untuk mempersiapkan lauk pauk baik dari daging taupun dari sayur seperti nangka, pepaya, dan sebagainya. Aman jangan mulai mengerjakan tugasnya setelah wirang (kerbau) dipotong oleh kiyai yang ditugaskan untuk memotong kerbau tersebut, mulai dari mengupas kulit kerbau sampai dengan menghidangkannya kepada para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut. Saat melaksanakan tugasnya, aman jangan dibantu oleh dua orang laki-laki yang disebut dengan penyanding aman jangan. Penyanding aman jangan bertugas membantu aman jangan sejak awal hingga akhir, selain dari ketiga orang ini tidak ada yang diperbolehkan untuk memegang sendok untuk menyajikan lauk pauk.

4) Inana Peminangan

Inan Peminangan bertugas untuk melekes (menyediakan perlengkapan makan sirih), selain itu Ia juga bertugas untuk menyiapkan tembako, untuk menyelesaikan tugasnya, inan peminangan dibantu oleh tiga orang wanita lainnya.

5) Inan Aiq

Inan Aiq ini bertugas untuk mempersiapkan air minum mulai dari membuat kopi, teh, sampai menyediakan air minum kepada setiap tamu undangan yang datang dan dalam acara tersebut, inan aiq ini bertugas dari sehari sebelum puncak pelaksanan acara tampah wirang hingga selesainya. Dalam melaksanakan tugasnya Ia dibantu oleh beberapa orang wanita lainnya yang bertugas memasak air dan menghidangkannya.

6) Inan Jaja

Inan Jaja bertugas untuk memepersiapkan jajan mulai dari sejak pembuatannya hingga menghidangkannya di dalam sampak jajan yang akan diberikan kepada para tamu dan semua orang yang hadir dalam acara tampah wirang tersebut. Dalam melaksanakan tugasnya Ia dibantu oleh wanita-wanita yang berada dilingkunagan tempat pelaksanaan tampah wirang hingga berakhirnya acara tersebut.

7) Seksi perlengkapan

Mengenai hal perlengkapan mulai dari sampak, piring dan alat-alat atau perlengkapan memasak dibebankan kepada para pemuda dan pemudi yang ada di daerah sekitar, mereka bertugas mengumpulkan perlengkapan tersebut bagaimana pun caranya, namun biasanya mereka meminjam ke setiap rumah anggota masyarakat dan setelah acara selesai maka merekalah yang bertugas mengembalikannya lagi. Semua perangkat yang telah di jelaskan di atas tidak boleh saling ikut campur dalam tugas masing-masing mereka hanya boleh menjalankan tugas masing-masng dari awal hingga akhair acara tampah wirang, bagi yang tugasnya lebih dulu selesai maka Ia harus istirahat dan tidak boleh memasuki tugas yang lain sebab dalam pelaksanaan acara ini semua sudah memiliki atauran-aturan tersendiri yang tidak boleh mereka langgar. Setelah segala sesuatunya siap untuk disajikan, maka puncak dari pelaksanaan acara tampah wirang adalah makan bersama di berugak agung kampu atau di rumah pihak keluarga mempelai perempuan. Makan bersama ini dilakuaka bersama antara keluarga dari kedua mempelai dengan segenap undangan yang menghadiri ritual tersebut sebagai pertanda bahwa kedua keluarga anatara pihak laki-laki dan perempuan telah bersatu dalam sebuah ikatan keluarga karena perkawinan anak-anak mereka.

3. Pelaksanaan Nikah Adat (Puncak Acara Tampah Wirang)

Acara tampah wirang belum selesai jika belum dilaksanakan pernikahan secara adat oleh kedua mempelai. Setelah semua hidangan disajikan dan dinikmati oleh para undangan baik yang berasal dari keluarga mempelai laki-laki ataupun perempuan maka prosesi puncak acara tampah wirang akan segera dilaksanakan yaitu persiapan pernikahan secara adat yang akan dilaksanmakan di santren kampu dan dihadiri oleh para toaq lokaq, penghulu, kiyai dan keluraga dari kedua mempelai dan disaksikan oleh semua anggota masyarakat setempat dari luar kampu.

Pernikahan secara adat (nikah adat) merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat adat Bayan dimana kegiatan ini adalah puncak dari prosesi ritual tampah wirang dalam sistem perkawinan adat Bayan. Setelah segenap acara atau prosesi tampah wirang dilaksanakan maka dilanjutkan dengan melaksanakan nikah secara adat yang akan dilaksanakan di santren kapu.

Pelaksanan nikahan adat ini berbeda dengan pelaksanan tikah lekoq buaq, acara pernikahan ini sangat meriah dan dihadiri oleh para undangan baik yang berasal dari pihak mempelai laki-laki maupun pihak keluarga mempelai perempuan beserta masyarakat sekitarnya. Selain itu yang harus ada atau hadir dalam acara ini adalah peghulu adat, pemekel adat, kiyai adat, pemangku dan wali.

Sebelum pernikahan secara adat yang dilaksanakan di santren kampu terlebih dahulu kedua mempelai mengadakan persiapan yang betul-betul unik dan memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Bayan. Adapun sebelum acara puncak ini dilakukan kedua mempelai harus melalui beberapa persiapan yaitu:

1) Menggunting bagi mempelai laki-laki, yang dimaksud dengan menggunting adalah mencukur rambut mempelai laki-laki, menurut pemahaman masyarakat Bayan mengguntig ini ditujukan supaya pengantin pria terbebas dari dosa-dosa yang pernah dilakukan di masa mudanya.

2) Nyerepet yaitu memotong rambut mempelai perempuan, namun perlu diketahui bahwa yang dipotong hanyalah ujung rambutnya saja dan dipotong pada setiap ujung rambut secara keselurukan (melingkar). Hal ini juga memiliki makna yang sama dengan apa yang dilakukan pada mempelai pria yakni untuk menghapus dosa yang telah dilakukannya pada masa muda.

3. Merosok Gigi yaitu pemangkasan gigi artinya gigi kedua mempelai    diratakan dengan alat pemotong gigi yang telah disediakan.

4. Mandiq Peraja yaitu memandikan penganti dengan menggunakan air yang telah dicampur dengan bunga rampe. Pada dasarnya rangkaian acara ini dilakukan untuk mensucikan kedua mempelai dari dosa-dosa yang pernah dilakukan di masa mudanya, sedangkan yang menjadi peminpin pelaksanaan acara tersebut adalah seorang petugas khusus yang diangkat oleh komunitas adat dengan tugas memandikan mempelai, di sini yang ditunjuk untuk memandikan mempelai laki-laki adalah seorang belian yaitu seorang wanita yang dianggap memiliki kemampuan lebih dari masyarakat lainnya. Sedangkan mempelai perempuan dimandikan oleh seorang kiyai yang telah ditunjuk oleh komunitas adat.

Setelah prosesi pensucian usai maka kedua mempelai masuk dalam rumah dan tibalah waktuny kedua mempelai menggunakan atau memasang pakaian pengantin mereka yang telah disediakan di dalam rumah. Pemasangan pakaian pengantin dilakukan oleh seorang belian (dukun), artinya untuk menggunakan pakaian pengantin itu, kedua mempelai dibantu oleh seorang belian yang merupakan bagian dari status sosial dalam tatanan kehidupan masyarakat setempat.

Setelah kedua mempelai siap dengan pakaian dan segala kelengkapannya maka ia segera melakukan ijab dan qabul. Di sinilah letak keunikan tradisi perkawinan masyarakat Bayan sebab dalam acara izab qabul itu hanya dihadiri oleh wali mempelai wanita yang diwakilkan oleh seorang kiyai penghulu, mempelai laki-laki, dan beberapa orang saksi yang berasal dari golongan kiyai, pembekel dan toaq lokaq. Mempelai perempuan baru boleh memasuki kampu setelah ijab dan qabul selesai, di sanalah dilakukan ritual bales lampak dimana mempelai perempuan membasuh kaki mempelai laki-laki dan air basuhan kaki tersebut diminum oleh mempelai perempuan dan setelah itu kedua mempelai di sembek (diberkati) oleh penghulu.

Uniknya lagi, dalam pelaksanaan acara nikah adat harus disediakan selembar tikar, sebuah rombong (gantang) dan penjalin (tongkat dari rotan), serta empat buah komboq (kelapa muda). Barang-barang tersebut dibawa oleh kerabat dari pihak mempelai laki-laki. Wali mempelai perempuan memakai kain tembasaq (kain putih) yang merupakan bagian dari sajikrama, kain tersebut diikat di pundaknya dan menutupi semua bagian punggung. Setelah barang-barang tersebut dinaikkan ke santren, wali dan mempelai laki-laki mengambil air wudu kemudian naik ke santren dan langsung duduk bersila berhadapan dan setelah itu wali mempelai wanita menyerahkan haknya sebagai wali kepada penghulu/kiyai. Selanjutnya dedaosan (uang bolong) dihitung oleh pemangku, komboq diletakkan di tengah-tengah santren, sedangkan seorang toaq lokaq mencambuk mempelai laki-laki dengan tongkat rotan sebanyak 55 kali, setelah itu barulah mempelai laki-laki saling berjabat tangan dengan penghulu/kiyai. Dengan demikian maka acara ijab dan qabul akan segera dilaksanakan dengan diawali pembacaan dua kalimat syahadat Bayan yang bunyi kalimatnya seperti bahasa jawa kuno. Setelah itu Kiyai melanjutkan dengan menlafazkan kalimat-kalimat seperti “Auzubillalahi, Bismillahirrahmannirrahim, Walhamdulillah  wassalatuwassalamu ala Rosulullahi hisallallahi alaihi usikum ibadallah nafsin bitakwallah. Winte isterine hana kaulane aran si (nama mempelai perempuan) manirah hanikah kenlawan pakan nira ni (nama mempelai laki-laki) saking peserahe waline maring ingsun alall ing manira, handeni maskawin kang (apa maskawinnya). Mempelai laki-laki langsung menjawab dengan ijab qabul yang dilafazkan “manira terima palakine ni (nama mempelai perempuan) ala ling manira, minagka utang manira, ing dalam akherat, wenten dene maskawine kang (maskawin)  minangka utang manira in rabing manira”. Dengan demikian berahirlah ijab dan qabul selanjutnya diahiri dengan pembacaan doa perkawinan oleh Kiyai yang berbunyi “Allahumma, alif baina humma alabta baina almara’i wasalji wabardi wartini admain birahmatika ya arhamar rahimin”.

Dengan berakhirnya doa tersebut maka usailah acara pernikahan adat dan kemudian pengantin mengambil berkat dari pemangku, kiyai, pembekel dan toq lokaq dengan bersalam-salaman sambil membaca syalawat dan selanjutnya membalas lampak yaitu mempelai perempuan membasuh kaki mempelai laki-laki dan air basuhan kaki tersebut kemudian diminimnya. Selanjutnya keduam mempelai menghapus bekas tapak kaki pemangku, kiyai, pembekel dan toaq lokaq di tempat naiknya masing-masing. Dengan demikian tuntaslah semua prosesi perkawinan adat sesuai dengan adat Bayan, maka sebuah perkawinan dalam masyarakat Bayan dikatakan sah atau resmi yang diakui oleh masyarakat umum dan tidak ada lagi beban bagi kedua belah pihak baik pihak laki-laki ataupun pihak perempuan dan kedua mempelai memiliki hak untuk bergaul dan ikut serta dalam acara-acara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat setempat. [] - 01

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan