logoblog

Cari

Tutup Iklan

Konsep Makan Suku Sasak

Konsep Makan Suku Sasak

KM. Sukamulia-Setiap suku bangsa memiliki pandangan atau persepektif yang berbeda mengenai konsep makan. Secara umum makan diartikan sebagai kegiatan mengkonsumsi makanan,

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
13 Desember, 2014 23:34:55
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 22004 Kali

KM. Sukamulia-Setiap suku bangsa memiliki pandangan atau persepektif yang berbeda mengenai konsep makan. Secara umum makan diartikan sebagai kegiatan mengkonsumsi makanan, baik makanan pokok, makanan tambahan, dan ataupun makanan ringan. Namun dalam pandangan masyarakat Sasak, makan diartikan sebagai kegiatan mengkonsumsi makanan pokok yang berupa nasi. Masyarakat Sasak akan mengatakan dirinya sudah makan apabila ia sudah memakan nasi dengan lauk pauknya dan apabila ia hanya makan ketupat, soto, bakso, jagung, ubi dan makanan lainnya maka masyarakat Suku Sasak mengatakan bahwa dirinya belum makan. Dengan demikian, menurut masyarakat Suku Sasak, makan adalah kegiatan mengkonsumsi nasi yang dilengkapi dengan lauk pauknya.

Makanan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dapat mengenyangkan perut serta dapat menyenangkan hati. Terkait dengan hal itu, masyarakat Suku Sasak mengenal beberapa jenis makan, yaitu makanan pokok berupa nasi, makanan panganan yang berupa jajanan dan jenis makanan tambahan, dan makanan upacara, yakni jenis makanan yang biasa disajikan dalam kegiatan upacara-upacara adat dan agama.

Makanan pokok atau makanan sehari-hari masyarakat suku Sasak adalah nasi dan lauk pauknya (jangan: Bhs. Lotim, kandok: Bhs. Loteng & Lobar dan jelu/luan dalam Bahasa Bayan). Biasanya masyarakat Sasak makan tiga kali dalam sehari, sarapan (ngelor/nyampah) pada pagi hari, bisanya sekitar jam 06.00 hingga jam 08.00, makan siang (mangan tengari) pada siang hari yang biasa dilakukan pada pukul 11.00 hingga pukul 13.00 dan makan malam (mangan kelem/kebian) pada malam hari, biasanya dilakukan setelah shalat magrih. Porsi makanan masyarakat Sasak berbeda-beda, tergantung dari daerah tempat tinggalnya. Masyarakat sasak yang tinggal di daerah pegunungan dan pesisir pantai biasanya makan dealam porsi yang lebih banyak. Secara umum hidangan makanan masyarakat suku Sasak terdiri dari nasi, ikan/tahu/tempe, dan sayur (jangan kelak) dan biasanya, porsi nasi lebih banyak dari lauk pauknya. Porsi sarana biasanya lebih sedikit dari porsi makan siang dan makan malam. Masyarakat suku Sasak biasanya makan nasi goreng sebagai hidangan sarapan paginya.

Masyarakat suku Sasak tidak akan mengatakan dirinya sudah makan apabila ia belum makan nasi dan lauk pauknya. Makan soto, pecel lontong, roti, dan ataupun jajanan lainnya mereka anggap sebagai makan camilan saja dan umumnya masyarakat Sasak belum merasakan kenyang yang sesungguhnya apabila mereka belum makan nasi beserta lauk pauknya. Inilah tradisi makan suku Sasak yang umumnya membedakan konsep makan masyarakat Sasak dengan masyarakat suku lainnya.

Mungkin kita sering bertanya kepada kawan-kawan atau keluarga kita, apakah anda sudah makan dan mereka menjawab belum, tadi saya hanya makan dua mangkok soto. Makan dua mangkok soto yang biasanya dilengkapi oleh ketupat dan daging ayam mash dikatakan belum makan, padahal ketupat dan nasi sama-sama terbuat dari beras. Heheeee,,,, namun itulah konsep makan kami yang hidup di pulau Lombok dan konsep makan ini akan tetap melekat dalam kehidupan sehari-hari kami meskipun kami berada di luar Lombok.

Orang sasak menyebut makanan-makanan selain nasi dengan istilah sesanganan atau makanan tambahan yang umumnya mereka anggap tidak dapat memberikan kenyang yang sesungguhnya. Bagaimanapun mereka kenyang dengan mengkonsumsi makanan tambahan namun setelah rasa kenyang itu berkurang maka pastilah mereka akan makan nasi sebagai kelengkapan makanan mereka. Masyarakat Sasak juga beranggapan bahwa makanan yang dapat mengenyangkan dan menggemukan badan hanyalah nasi, sedangkan makanan lainnya tidak bisa memberikan rasa kenyang dan tidak pula dapat menggemukkan badan. Oleh sebab itulah, masyarakat Sasak selalu memberikan anak-anaknya makan nasi sejak anak mereka masih bayi. Perlu juga diketahui bahwa masyarakat-masyarakat Sasak yang tinggal di pedesaan selalu memberikan bayi mereka makan nasi ulek atau nasi papak (nasi yang sudah dikunyah oleh sang ibu) dan jarang sekali yang memberikan nasi SUN atau sejenisnya kepada bayi-bayi mereka.

 

Baca Juga :


Masyarakat suku Sasak sangat menghargai makanan sebab mereka beranggapan bahwa makanan itulah yang membuat mereka tumbuh dan berkembang. Mereka sangat berhati-hati dalam mencari dan menemukan makanan sebab mereka beranggapan bahwa makanan akan menjadi darah dan daging mereka. Masyarakat Sasak juga memiliki konsep yang mengatakan bahwa makanan yang baik dapat menjernihkan pikiran sedangkan makanan yang haram dapat mendorong manusia pada kesesatan dan kekotoran pikiran. Karena itu, mereka berusaha memperlakukan makanan itu dengan sebaik mungkin, mulai dari pembibitan hingga penyajiannya yang sudah berupa supaya makanan itu membawa berkah bagi kehidupan mereka. Sebagai ungkapan penghormatan mereka terhdap makanan maka masyarakat suku Sasak menajarkan kepada anak-anak mereka supaya tidak menduduki atau melangkahi (lengkak) nasi dan makanan lainnya. Hal inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat Sasak menaruh nasi pada tempat yang lebih tinggi, biasanya mereka membuat gantungan/lanja’ yang digunakan sebagai tempat menaruh ponjol/tempat nasi.

Masyarakat Sasak juga memiliki aturan ketika makan, aturan-aturan itu adalah: a) secara umum masyarakat suku Sasak makan menggunakan tangan kanan dan sangat tidak diperbolehkan untuk menyuap nasi menggunakan tangan kiri, b) makan dilakukan di dapur, namun ahir-ahir ini sudah banyak yang melakukannya di ruang tamu (sesangkako) atau ruang makan, c) makan dilakukan secara bersama-sama/begibung dengan duduk bersila, d) sebelum makan, ibu rumah tangga atau anak gadis harus sudah menghidangkan nasi dan lauk lengkap dengan perlengkapan makan, e) makan dilakukan dengan duduk bersaf dan berhadap-hadapan atau bisa juga dengan melingkar mengelilingi makanan, tidak boleh saling membelakangi (saling temudin), f) nasi disediakan pada piring masing-masing sedangkan lauk pauk dan sayuran sama-sama diambil dari mangkok yang sama, g) Setiap anggota keluarga tidak boleh terlalu banyak bicara saat makan, h) tidak diperbolehkan menyuap nasi terlalu banyak, i) tidak boleh berdecap (mecak) dengan suara yang keras saat mengunyah makanan, j) setiap anggota keluarga diperbolehkan untuk menambah nasi apabila nasi yang terhidang di piringnya tinggal sedikit dan tidak diperbolehkan untuk menambah nasi sedangkan piring sudah dalam keadaan kosong, k) anak-anak tidak boleh mendahului orang tuanya untuk mencuci tangan, baik sebelum mulai ataupun sesudah selesai makan, l) siapa saja yang lebih dahulu selesai makan tidak diperbolehkan untuk meninggalkan tempat makan sebelum semuanya selesai, dan m) setelah semua selesai makan, tidak diperbolehkan untuk duduk berlama-lama di tempat makan tersebut.

Makan dengan berbagai urgensinya memang sangat diperhatikan oleh manusia, dimanapun mereka berada. Selaku manusia yang beragama dan berbudi maka dalam melaksanakan makan, terdapat aturan-aturan yang harus kita perhatikan sebab makan juga memiliki nilai yang sangat penting dan menjadi gambaran kehidupan suatu masyarakat. Oleh sebab itulah, masing-masing suku bangsa, masing-masing Negara dan ataupun masing-masing komunitas memiliki aturan yang berbeda dalam melakukan kegiatan makan. Semoga Artikel singkat ini dapat menjadi informasi yang bermanfaat dan bermakna bagi penulis sendiri dan bagi para pembaca pada umumnya dan semoga dengan membaca artikel ini para pembaca dapat memahami konsef makan masyarakat Sasak sehingga jika suatu saat sahabat bertamu atau berkunjung kepada sanak family yang tinggal di Lombok maka sahabat dapat mengikuti mereka makan dengan aturan-aturan mereka. [] - 05

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan