logoblog

Cari

Tutup Iklan

Upacara Kelahiran Masyarakat Sasak

Upacara Kelahiran Masyarakat Sasak

Anak merupakan sesuatu yang sangat didambakan bagi pasangan suami istri, begitu pula dengan masyarakat sasak. Ketika mendapatkan seorang anak (melahirkan anak)

Budaya

ibrahim arifin
Oleh ibrahim arifin
15 Oktober, 2014 08:37:40
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 23057 Kali

Anak merupakan sesuatu yang sangat didambakan bagi pasangan suami istri, begitu pula dengan masyarakat sasak. Ketika mendapatkan seorang anak (melahirkan anak) masyarakat sasak umumnya melakukan berbagai upacara untuk mensyukuri kelahiran anaknya. Berikut adalah berbagai Upacara Kelahiran  yang dilakukan oleh masyarakat sasak sebelum dan ketika telah melahirkan anak.

A.   BRETES

Upacara bretes dilakukan setelah usia kandungan tujuh bulan dengan maksud memberikan keselamatan kepada ibu dan calon banyinya. Setelah banyi lahir, ari-arinya diperlakukan sama dengan sang  banyi, karena menurut mereka ari-ari adalah saudara sang banyi yang oleh orang-orang Sasak disebut adik-kakak, berarti bayi dan ari-arinya adalah adik-kakak.

Setelah ari-ari dibersihkan kemudian di masukkan ke dalam periuk atau tempurung kelapa setengah tua yang sudah dibuang airnya kemudian ditanam di wilayah penirisan yang diberi tanda dengan gundukan tanah seperti kuburan. Sebagai batu nisannya dipergunakan bambu kecil berlubang yang diletakkan berdampingan dengan lekesan daun sirih yang sudah digulung dan diikat dengan benang putih, pinang, kapur sirih dan rokok tradisional. Semua kelengkapan tadi ditata dalam rondon. Rondon tersebut dari daun pisang yang berbentuk segi empat menyerupai kotak.

 

B.   MELAHIRKAN ANAK

Setelah itu mengadakan sesaji atau selamatan melalui upacara  tertentu yang berkaitan aktivitas kehidupan mereka sehari-hari, sebagai mana halnya yang dilakukan wanita Sasak apabila melahirkan, maka suaminya segera mencari belian (dukun beranak) yang mengetahui seluk beluk melahirkan tersebut.

Dalam melahirkan, apabila calon ibu kesulitan dalam melahirkan maka belian atau dukun beranak menafsikan bahwa tingkah laku sang ibu sebelum hamil, misalnya kasar terhadap suami atau ibunya, untuk itu diadakan upacara seperti menginjak ubun-ubun, meminum air bekas cuci tangan yang disertai dengan mantra dan sebagainya agar mempercepat kelahiran sang bayi.

 

Baca Juga :


 

C. MOLANG MALIK

 Pada saat bayi berumur tujuh hari diadakan upacara molang malik (membuang sial) diperkirakan dalam usia tersebut pusar bayi telah gugur. Pada kesempatan itulah sang bayi diberi nama dan diperbolehkan keluar rumah. Belian (dukun beranak)  mengoleskan sepah sirih di atas dada dan dahi sang bayi maupun ibunya. Di beberapa tempat di Lombok selain upacara  molang malik dikenal juga upacara pedak api yang pada hakikatnya bertujuan sama. Prosesi pelaksanaan pedaq api adalah :

  1. Mem-boreh sang ibu dengan boreh yang sudah diramu atau di haluskan dan diberi doa oleh dukun beranak.
  2. Setelah selesai memboreh lalu dukun menyiapkan bara api yang terbuat dari sabut kelap yang di taburi kemenyan dari daun lemundi (sejenis tumbuhan pardu).
  3. Ibu bayi menggunkan kain secara berkembeng (kain sampai batas dada) sambil menggendong bayinya dan berdiri diatas bara api dan kemudian dukun memberinya doa / mantra.
  4. Setelah dukun beranak atau belian selesai berdoa bara api disiram dengan air bunga rampai (medak api)
  5. Kemudian sang ibu menyembe’ dan menjam-jam (mendoakan si bayi menurut kehendak sang ibu). Hal ini dilakukan apabila tali pusar sang bayi sudah kering dan terlepas dari pusarnya.

Pada saat itu juga diadakan upacara turun tanah (turun gumi) dengan menurunkan bayi tersebut sebanyak tujuh kali ke atas tanah. Bertepatan dengan ini juga diadakan pemberian nama pada si bayi. Untuk bayi perempuan diturunkan bilamana terdapat alat nyesek (menenun) dan untuk bayi laki-laki diturunkan bilamana terdapat tenggele/bajak (alat pertanian). Umumnya dibeberapa tempat, si bayi yang melangsungkan upacara pedaq api digendong memakai umbaq (lempot). Bila bayinya perempuan maka yang dipakai adalah umbaq yang dipakai milik ayah, sedangkan jika laki-laki maka yang dipakai adalah umbaq milik ibunya.

Bagi orang Sasak, pusar si bayi yang sudah jatuh disimpan dan dibungkus dengan kain putih dan kemudian dimasukkan  ke dalam tabung perak atau kuningan untuk dijadikan azimat. Selain itu air bekas siraman pusar bisa dijadikan obat apabila si anak sakit mata. 02



 
ibrahim arifin

ibrahim arifin

Berasal dari Gubuk Madrasah Desa Rensing Bat Kec.Sakra Barat Kab. Lombok Timur. Bekerja sebagai Staf Desa di Kantor Kepala Desa Rensing Bat sejak juni 2011 sampai sekarang dalam Bidang Pemerintahan

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan