logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pertahankan Budaya Melalui Lomba “Rimpu”

Pertahankan Budaya Melalui Lomba “Rimpu”

KM. Portal Himpas, - Dalam rangka memerihkan Hari Ulang Tahun Rebuplik Indonesia yang Ke-69 Tim penggerak PKK Kecamatan Monta, Kabupaten Bima

Budaya

KM. Portal Himpas
Oleh KM. Portal Himpas
22 Agustus, 2014 20:33:30
Budaya
Komentar: 5
Dibaca: 12224 Kali

KM. Portal Himpas, - Dalam rangka memerihkan Hari Ulang Tahun Rebuplik Indonesia yang Ke-69 Tim penggerak PKK Kecamatan Monta, Kabupaten Bima menggelar kegiatan lomba “Rimpu” (pakaian tradisional wanita bima) kegiatan lomba yang dilaksankan di aula kantor Camat Monta pada Kamis (21/08) itu di ikuti oleh ibu-ibu dari seluruh instansi pemerintahan di Kecamatan Monta seperti Instansi pendidikan, kesehatan, pertanian bahkan instansi pemerintahan desa ikut andil dalam kegiatan ini.

Rimpu merupakan salah satu busana tradisional wanita daerah bima yang terbuat dari dua lembar kain atau sarung dalam bahasa bima disebut (tombe nggoli) yang bertujuan untuk menutup bagian tubuh. Satu lembar untuk menutup bagian kepala sampai kebawah dan satu lembarnya lagi sebaga pengganti rok.

Cara pemakaiannya pun cukup mudah, satu lembar sarung pertama dililit mengikuti arah kepala dan muka kemudian menyisahkan ruang terbuka pada bagian mata atau wajah. Sedangkan untuk membuat rok sarung yang kedua cukup dililitkan pada bagian perut dan membentuknya seperti rok kemudian mentangkupkan pada bagian kanan atau kiri pinggang.

Dalam kegiatan lomba ini sejumlah Ibu-ibu menunjukan kebolehannya dalam mengenakan Rimpu dihadapan 4 orang dewan juri. Nurasiah, salah seorang peserta dari Desa Monta, Kecamatan Monta mengaku senang mengikuti lomba selain bisa menunjukan kebolehan dihadapan juri dia juga merasa bangga bisa mengenakan rimpu yang merupakan pakaian tradisional wanita bima jaman dulu.

Menurut dia, Jaman sekarang sudah jarang sekali terlihat perempuan Bima yang mengenakan rimpu kecuali di daerah-daerah tertentu saja “Mudah-mudahan melalui lomba ini  kita dapat mempertahankan budaya-budaya lokal yang kini hapir punah dan bisa meperkenalkan budaya rimpu kepada genrasi-genarasi sekarang sehingga mereka tidak merasa asing dengan budayanya sendiri,” tuturnya.

Berdasarkan data dari beberapa sumber Rimpu merupakan busana adat harian tradisional yang berkembang pada masa kesultanan, sebagai identitas bagi wanita muslim di Bima. Rimpu mulai populer sejak berdirinya Negara Islam di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H bertepatan dengan 5 Juli 1640.

 

Baca Juga :


Masuknya rimpu ke Bima amat kental dengan masuknya Islam ke Kabupaten bermotokan Maja Labo Dahu ini. Pedagang Islam yang datang ke Bima terutama wanita Arab menjadi inspirasi kuat bagi wanita Bima untuk mengidentikkan pakaian mereka dengan menggunakan rimpu.

Adanya perbedaan penggunaan rimpu antara yang masih gadis dengan yang telah bersuami, secara tidak langsung menjelaskan pada masyarakat terutama kaum pria tentang status wanita pada zaman itu. Bagi kaum pria terutama yang masih lajang, melihat mereka yang mengenakan rimpu mpida merupakan pertanda baik.

Apalagi, jika pria lajang tersebut sudah berkeinginan untuk segera berumah tangga. Dengan sendirinya, pria-pria lajang akan mencari tau keberadaan gadis incarannya dari cara pemakaian sarung. [Bya] - 01

Foto: http://www.flickr.com/photos/101672790@N08/9737613353



 

Artikel Terkait

5 KOMENTAR

  1. KM. Gerbang Pakar

    KM. Gerbang Pakar

    25 Agustus, 2014

    setuju, mari kita memasyarakatkan rimpu... dijaman yang sekarang ini sudah mulai buka-bukaan aurat


  • KM Kaula

    KM Kaula

    25 Agustus, 2014

    wajib hukumnya budaya rimpu ini dipertahankan oleh semua lapisan masyarakat karena ianya tidak cuma bicara soal budaya tapi ianya merupakan identitas wanita muslim, apalagi kalau ada beda cara pakai rimpu bagi wanita yang telah bersuami dan belum, sudah tentu akan sangat membantu orang tidak tersesat jalan sampai salah alamat (Mendekati orang sudah bersuami). salah satu kiat mempertahankannya adalah dengan memberikan riword bagi wanita yang paling aktif memakai rimpu, tidak cuma diwaktu lomba tapi disetiap waktu semua instansi atau lembaga yang mau peduli soal ini melakukan pengamatan setiap hari, ketika ada moment hari besar tiba-tiba diumumkan wanita yang paling aktif pakai rimpu ditiap dusun diumumkan untuk diberikan hadiah. saya kira akan sangat efektif untuk mendorong semangat orang pakai rimpu. tidak percaya?, Buktikan saja!


  • KM LENGGE

    KM LENGGE

    25 Agustus, 2014

    PAKAIAN ADAT BIMA..... CIRI KHAS PEREMPUAN BIMA>......SEMOGA TETAP DIPERTAHANKAN DAN DIGUNAKAN TIDAK TERMAKAN OLEH PENGARUH GLOBALISASI.....


  • KM. Portal Himpas

    KM. Portal Himpas

    23 Agustus, 2014

    KM. Lingsar@ Memang seharusnya seperti itulah, budaya dan tardisi yang diwariskan kepada kita perlu kita pertahankan dan kita lestarikan agar generasi-generasi mendatang mengenal adat dan budayanya sendiri.


  • KM. Lingsar

    KM. Lingsar

    23 Agustus, 2014

    pakaian adat masing masing daerah memang sudah saatnya ditonjolkan supaya generasi muda mendapat informasi yang jelas mengenai hal tersebut dan merasa dititipi oleh generasi sebelumnya....


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan