logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tradisi "Merosok" Gigi

Tradisi

Tradisi Merosok Gigi adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat penganut Islam Wetu Telu yang ada di Bayan secara umum

Budaya

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
10 Mei, 2014 16:07:08
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 28461 Kali

Tradisi Merosok Gigi adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat penganut Islam Wetu Telu yang ada di Bayan secara umum dan pada masyarakat Dusun Semokan pada khusunya. Jika kita melirik kepada ajaran agama Hindu, maka di dalam ajaran agama Hindu dapat kita temukan suatu upacara yang disebut dengan nama upacara pemotongan gigi. Dari refrensi yang dapat penulis temukan didapatkan penjelasan bahwa tradisi Merosok Gigi ini memiliki kesamaan dengan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali.

Tradisi Merosok Gigi adalah istilah Sasak dari upacara memotong gigi. Tradisi Merosok Gigi dilakukan bagi anak-anak usia 17 tahun ke atas. Menurut Amaq Sutrajip (Kiyai Adat Dusun Semokan), tradisi Merosok Gigi dilakukan apabila anak sudah memasuki usia 17 tahun ke atas, ini dilakukan pada anak laki-laki ataupun perempuan. Menurutnya tujuan dilakukannya Merosok Gigi ini adalah untuk membersihkan si anak dari keinginan-keinginan yang jelek, selain itu Merosok Gigi juga dilakukan untuk membersihkan si anak dari dosa dan sebagai pertanda bahwa anak tersebut sudah memasuki usia baliq. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa tradisi Merosok Gigi merupakan ajaran agama Hindu yang diakulturasikan dengan budaya lokal masyarakat Sasak khusunya yang ada di Dusun Semokan.

Latar belakang dilaksanakannya tradisi Merosok Gigi oleh masyarakat Dusun Semokan adalah adanya pandangan masyarakat setempat yang menganggap bahwa gigi taring merupakan perlambangan hawa nafsu yang ada dalam diri seseorang, sebab yang gigi taring itu adalah perlambangan dari kerakusan dan kesewanang-wenangan yang dimiliki oleh hewan yang tidak memiliki aturan dalam hidupnya. Oleh sebab itu, secara sederhana dapat dikatakan bahwa alasan masyarakat Dusun Semokan untuk melaksanakan tradisi Merosok Gigi adalah untuk membebaskan anak-anak mereka dari sifat kebinatangan yang diperlambangkan dengan meratakan gigi tarik yang mereka miliki denga tujuan supaya hawa nafsu mereka dapat dikendalikan pada tahap kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Prosesi Merosok Gigi biasanya dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis. Hal ini dilakukan sebab tradisi Merosok Gigi merupakan kegiatan yang sacral dan memiliki makna yang sangat luhur. Dengan dilaksanakannya Merosok Gigi maka anak-anak yang telah melakukan tradisi ini dianggap suci dan dianggap betul-betul islam oleh orang-orang di sekitarnya.

Acara ini dimulai dengan acara persiapan. Pada pagi hari di hari H (Senin atau Kamis), anak yang akan Merosok Gigi dipersiapkan oleh keluarganya. Ia diberikan pakaian yang indah dan rapi, dimana anak tersebut harus menggunakan pakaian adat seperti kain tradisional yang disebut Dodot, ikat pinggang yang disebut Londong Abang, dan ikat kepala yang disebut Sapuq. Setelah si anak diberi pakaian yang rapi dan indah, maka anak tersebut dimasukkan di dalam rumah. Ia tidak boleh keluar sebelum Tukang Rosok datang di tempat pelaksanaan.

Sementara itu, keluarga yang lain sibuk mempersiapkan jajanan yang akan disajikan kepada para tamu undangan yang akan menghadiri Roah Merosok Gigi. Hidangan yang disiapkan adalah nasi, lauk-pauk, dan jajan semampu penyelenggara. Hanya saja, di dalam Roah ini tidak boleh tidak ada jajan Peset yaitu jajan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan kelapa.

Setelah Tukang Rosok hadir ditempat pelaksanaan maka anak yang akan di Rosok Gigi-nya dibawa oleh keluarganya menuju Berugak Kagungan. Semua persyaratan yang sudah disiapkan sejak kemarin dikeluarkan dan dibawa juga ke Berugak Kagungan. Acara akan dimulai apabila semua Kiyai dan tokoh masyarakat yang diundang telah hadir. Jika ada diantara undangan yang belum hadir maka acara belum bisa dimuali. Setelah semua undangan datang dan berkumpul di Berugak Kagungan, maka Tukang Rosok dipersilahkan untuk melakukan tugasnya. Setelah itu barulah Tukang Rosok mulai mengeluarkan alat yang akan digunakan untuk Merosok Gigi. Sebelum mulai, Tukang Rosok terlebih dahulu membaca mantera-mantera sebagai doa keselamatan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam proses Merosok Gigi baik bagi dirinya sendiri lebih-lebih bagi anak yang Dirosok.

Kelengkapan yang disiapkan sebagai persyaratan Merosok Gigi ditaruk disebelah anak yang akan di-Rosok Gigi-nya. Selanjutnya anak itu disuruh tidur dengan posisi terlentang menghadap atas, setelah posisi anak itu dirasa bagus oleh Tukang Rosok maka mulut anak tersebut dibuka dan pada bagian bibir sebelah kiri dan kanan ditaruhkan penjangka yang dibuat dari kayu jarak, tujuannya suapaya mulut si anak tetap terbuka. Setelah itu, barulah Tukang Rosok mulai menggosok-gosokkan batu asah yang dibawanya pada gigi taring si anak yang dimulai dari gigi taring sebelah kanan yang kemudian dilanjutkan pada gigi taring sebelah kiri. Para undangan hanya bertugas sebagai saksi saja, mereka tidak melakukan apa-apa.

Merosok Gigi biasanya paling cepat dilakukan selama 1 jam baru gigi-gigi taring si anak bisa rata dan kadang-kadang ada yang sampai 3 atau empat jam. Hal ini tergantung dari umur anak yang dirosok giginya. Menurut seorang Tukang Rosok Gigi, anak yang berumur kurang dari 17 tahun biasanya menghabisakan waktu 1 jam untuk meratakan giginya sedangkan yang diatas 17 tahun itu yang memakan waktu lama sebab gigi taringnya sudah keras.

 

Baca Juga :


Setelah gigi taring sang anak sudah kelihatan rata, maka proses Merosok Gigi diahiri oleh Tukang Rosok Gigi. Selanjutnya anak yang sudah diratakan giginya dibangunkan dan Tukang Rosok duduk berhadap-hadapan dengan anak tersebut dengan posisi duduk bersila. Tukang Rosok mengambil sirih pinang dan sebagainya, lalu dilumatnya. Setelah itu hasil lumatannya yang disebut Sembek diusapkan pada kening anak yang sudah diratakan giginya tadi. Menurut orang setempat Sembek itu adalah sebagai obat dan sebagai pertanda bahwa anak tersebut sudah masuk Islam sehingga kapan saja ia boleh naik ke Berugak Kagunngan Kampu dan boleh mengikuti ritual-ritual adat, serta setelah itu tidak ada yang memberatkannya jika nanti ia melakukan perkawinan.

Dengan diberikannya Sembek pada kening anak tersebut, maka berahirlah ritual Merosok Gigi dan anak tersebut sudah syah dikatakan sebagai anak yang Selam atau beragama Islam. Selanjutnya anak yang sudah diratakan giginya tersebut diperbolehkan turun dari Berugak Kagungan untuk beristirahat. Persyaratan-persyaratan Merosok Gigi  Gigi yang telah disiapkan nantinya akan dibawa pulang oleh Tukang Rosok sebagai upahnya Merosok Gigi.

Tardisi Merosok Gigi yang berlaku dalam komunitas masyarakat Dusun Semokan Desa Sukadana sangat besar pengaruhnya bagi setiap masyarakat di Dusun Semokan, dimana jika seseorang anak tidak melaksanakannya maka ia akan diejek dan bahkan tidak akan diperbolehkan mengikuti ritual-ritual adat dan agama yang sering dilakukan oleh masyarakat Dusun Semokan dan bahkan orang yang belum Merosok Gigi tidak boleh sama sekali mendekati tempat-tempat suci yang ada di Dusun Semokan seperti Kampu, Berugak Kagungan, dan Masjid Kuno. Selain itu jika seorang anak di Dusun Semokan belum melakukan Merosok Gigi lalu ia melarikan atau dilarikan untuk dinikahi, maka ia harus Merosok Gigi baru ia boleh dinikahkan.

Masyarakat Wetu Telu Dusun Semokan merupakan msyarakat yang terikat oleh norma-norma adat atau hukum adat yang harus dipatuhi oleh anggota masyarakat dalam setiap aspek kehidupannya termasuk dalam pelaksanan tradisi Merosok Gigi. Merosok Gigi merupakan ritual adat yang harus dilalui oleh setiap masyarakat Dusun Semokan terutama jika ia sudah berusia 17 tahun ke atas, dimana Merosok Gigi adalah meratakan gigi seseorang dengan menggunakan alat perosok berupa batu asah sehingga gigi taring oarang tersebut rata. Tradisi Merosok Gigi memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat adat Wetu Telu Dusun Semokan. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun sejak dari nenek moyang mereka. Masyarakat Dusun Semokan Desa Sukadana pada umumnya menganut sistem budaya dan agama yang sama dengan masyarakat Bayan pada umumnya yaitu paham Islam Wetu Telu sehingga Dusun Semokan merupakan bagian wilayah adat yang ada Bayan.

Dalam kehidupan masyarakat Dusun Semokan tradisi Merosok Gigi adalah hal yang sangat penting, dimana tradisi Merosok Gigi merupakan suatu perlambangan bahwa seseorang telah memasuki agama Islam. Sebelum warga masyarakat Dusun Semokan melakukan tradisi Merosok Gigi maka ia belum dikatakan sebagai orang Islam, malahan ia dikatakan orang Boda atau orang yang masih kotor. [] - 05


_asri ASA_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan