logoblog

Cari

Mengenal dan Melihat Sejarah Nyongkolan Adat Sasak

Mengenal dan Melihat Sejarah Nyongkolan Adat Sasak

Nyongkolan berasal dari kata songkol atau sondol yang berarti mendorong dari belakang atau bisa diartikan secara kasar berarti menggiring (mengiring -pen)

Budaya

em jeiy youm
Oleh em jeiy youm
21 Maret, 2014 11:19:16
Budaya
Komentar: 1
Dibaca: 64056 Kali

Nyongkolan berasal dari kata songkol atau sondol yang berarti mendorong dari belakang atau bisa diartikan secara kasar berarti menggiring (mengiring -pen) dalam bahasa Sasak dialek Petung Bayan.

Nyongkolan adalah prosesi adat yang dijalankan apabila adanya proses pernikahan antara laki-laki (Terune) dan perempuan (Dedare) di dalam suku Sasak. Biasanya nyongkolan akan dilaksanakan setelah proses akad nikah, untuk waktu bisa ditentukan oleh kedua belah pihak. Ada yang meringkas dalam satu waktu ada pula yang akan melakukan nyongkolan seminggu atau 1 bulan setelah proses akad nikah dilaksanakan.

Prosesi nyongkolan tidak akan bisa dilepas dari suatu kegiatan yang disebut "begawe" (hajatan-pen).

Jadi prosesi nyongkolan akan dikategorikan sebagai suatu hajatan atau begawe. Pada zaman-zaman dahulu Begawe Nyongkolan akan dikemas dalam suatu pesta hajatan yang sangat meriah dan di sebut "Begawe Beleq" yang tidak sedikit mengeluarkan biaya. Dalam acara Begawe Beleq baik pihak laki-laki dan perempuan masing-masing akan mempersiapkan segala sesuatu untuk prosesi acara nyongkolan tersebut. Maka disini letak kemeriahan dari acara tersebut, para tamu undangan akan diundang dua atau tiga hari sebelum hari H tersebut, untuk melakukan kegiatan memasakan nasi dan lauk pauk serta membikin jajanan pesta. Untuk menghibur para tamu yang bekerja biasanyanya pemilik hajatan (Epen Gawe-pen) akan menyewa kesenian-kesenian tradisional khas Sasak seperti Gendang Beleq, Drama, Joget (sinden-pen) dan sebagainya. Pada perjalanan acara ini akan terdapat tradisi-tradisi kecil lagi yang dijalankan seperti Bisoq Beras yang diiringi oleh alat musik tradisional.  acara Bisoq Beras merupakan tradisi pavorit para Terune Dedare karena disini mereka bisa bercengkerama dan saling rayu, dan acara bikin Ares.

Kembali ke Nyongkolan, setelah hari H tiba, pengantin laki-laki dan perempuan akan diiring atau digiring atau diarak layaknya Raja dan Permaisuri menuju kediaman keluarga pihak pengantin perempuan, pengiring ini akan mengenakan pakaian adat sasak layaknya prajurit dan dayang-dayang menghantar Raja dan Permaisuri sambil diiringi dengan musik tetabuhan tradisional baik berupa Gendang Beleq, Gamelan Beleq, Kedodak, atau Tawak-Tawak malah sekarang ada namanya Kecimol dan Ale-Ale yang biasanya diiringi oleh penyanyi.

 

Baca Juga :


Sesampai dikediaman keluarga pengantin perempuan, pasangan pengantin akan melakukan sungkeman untuk meminta do'a restu kepada pihak keluarga juga sebagai tanda bahwa pihak keluarga sudah merestui untuk melepas anak gadis mereka dan dibawa oleh suaminya. 

Demikian sepenggal tradisi adat suku Sasak Lombok dalam melangsungkan prosesi pernikahan, dan dari segi kultur atau budaya maka hal ini tidak jauh-jauh dengan tradisi budaya Jawa dan Bali.(03).



 

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    25 Mei, 2014

    Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, jadi tidak apa kan sekalipun terlambat tulisan ini saya komentari?.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan