logoblog

Cari

Warisan Sultan Muhammad Siradjudin Yang tidak Pudar

Warisan Sultan Muhammad Siradjudin Yang tidak Pudar

 Km. Sanggicu: Nggusu Waru adalah delapan sifat/karakteristik yang menyatu sedemikian kuatnya dalam diri seseorang yang menjadi pemimpin (dumudou, ama dou, amarasa) (bahasa

Budaya

KM. Sanggicu Dompu
Oleh KM. Sanggicu Dompu
30 Januari, 2014 16:47:48
Budaya
Komentar: 0
Dibaca: 21455 Kali

 Km. Sanggicu: Nggusu Waru adalah delapan sifat/karakteristik yang menyatu sedemikian kuatnya dalam diri seseorang yang menjadi pemimpin (dumudou, ama dou, amarasa) (bahasa lokal). Kedelapan sifat/karakteristik itu sekaligus dapat dijadikan kriteria alternatif bagi seseorang yang akan dipilih/diangkat menjadi pemimpin, Ini merupakan salah satu warisan kesultanan Dompu yang tidak pudar dari kesultanan Muhammad Siradjudin yang sekaligus raja Dompu ke 29.

Warisan tersebut berupa sifat yang dinamakan dalam bahasa Daerah Dompu-Mbojo yakni Nggusu Waru, atau yang diartikan Delapan Prinsip kepemimpinan, nggusu waru yaitu : 

(Sa’orikaina) “dou maja labo dahu dinadai Ruma Allahu Ta’ala”. Artinya orang yang merasa malu dan takut kepada allah SWT. Takwa dalam artian hati-hati dan selektif dalam hidupnya. Ia tidak mau bersikap sembarangan. Karena ia yakin bahwa meskipun mata kepalanya tidak dapat melihat allah, tapi mata hatinya yakin bahwa allah SWT pasti memperhatikan dia, sebagaimana dirumuskan dalam pengertian ihsan, yaitu: “hendaklah engkau menyembah allah, seakan-akan kau meliha-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa allah pasti melihat engkau”. Jadi, kriteria yang satu ini mendasari sekaligus menjiwai ketujuh sifat yang lainnya. Sifat ma sabua ake, nakapisiku sifat ma pidumbua ma kalai ede.


(Dua orikaina) “ dou ma bae ade”. Artinya, orang yang memiliki kapasitas intelektual serta kepekaan jiwa (spiritual) yang mendalam sehingga dengan mudah menanggapi berbagai permasalahan yang terjadi, secara rasional dan intuitif serta tidak mudah bersikap emosional dalam arti negatif. Karena itu, ia selalu mampu mengontrol dirinya sedemikian rupa sehingga tidak mampu terbawa oleh pemikiran yang bersifat polaritas: prokontra, kiri-kanan, hitam-putih, dan sejenisnya (unca-anca, ngu’e-nga’e). Tapi ia mampu mengajukan pikiran yang partisipatif, akomodatif, dan adaptif. Jadi ia mampu memodernisasi, menjembatani, mencari titik temu, dari dua/lebih hal yang ekstrim sedemikian rupa sehingga ia mampu berada “ditengah-tengah”, menjadi wasit, adil dan santun. Dia tidak mudah terpancing untuk melakukan kekerasan, ia anti kekerasan sesuai dengan makna instrinsik dari kata DOMPU atau DOMPO. Bukan secara kebetulan kalau Kabupaten DOMPU itu secara geografis berada “persis” ditengah-tengah pulau Sumbawa, sehingga sangat relevan dengan kata DOMPU/DOMPO. 

(Tolu orikaina) “dou ma mbani labo disa”. Bukan orang yang “kebe” (orang yang kebal) karena memiliki ilmu-ilmu tertentu yang bersifat mistik. Dou mbani labo disa Artinya orang yang memiliki sifat berani melakukan perubahan (reformasi) kearah yang lebih positif-konstruktif karena diyakini kebenarannya. Karena itu, ia berani mempertanggungjawabkan perbuatanya kini disini, di dunia, dihadapan UUD 45 dan pancasila serta dihadapan Allah SWT, yaitu dihari perhitungan yang amat cermat lagi teliti, di yaumul hisab, nantinya. Dalam al-quran telah dijelaskan yang artinya “Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya kelak aku akan menemui hisab oleh dan terhadap diriku sendiri(QS. Al Haqqah, 69:20). Karena itu tidak ada seorangpun yang mampu “bersandiwara” seperti yang pernah ia lakukan semasa hidupnya di dunia. Perhatikan pula QS. Yasin, 36:65, yang artinya “Pada hari itu kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberikan kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. 
Jadi, mbani labo disa berarti, berani dan dapat/sanggup berbuat sesuatu, sesuai dengan aturan main yang ada/berlaku, yang tentu saja ia yakin akan kebaikan dan kebenaran.

(Upa orikaina), “dou ma lembo ade ro ma na’e sabar”. Artinya orang yang lapang dada (berjiwa demokratis dan akomodatif) yang mampu menjembatani hal-hal yang dapat menimbulkan polaritas (pro-kontra). Dengan berkat kesabarannya ia tidak mudah memihak kepada hal-hal yang nampaknya secara lahiriah, menguntungkan, padahal justru membahayakan. Dengan demikian ia, mampu mengatasi berbagai krisis yang terjadi. Karena ia memiliki tekad/semangat yang membaja dalam meraih tujuan yang lebih luhur, lebih membahagiakan. Ia mantapkan tekad/semangat dengan mengatakan” kalembo ade, kana’e saba, kapaja syara’, sia sawa’u, su’u sawale. Insya Allah, Allah SWT akan menolong siapa saja, selama orang tersebut memiliki sikap seperti itu. Perhatikan QS. Al-Baqarah, 2: 45 dan 153 yang artinya “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”. Sabar itu selalu pahit pada awalnya, tetapi manis pada akhirnya. “Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut di utamakan”(QS. Ali Imran, 3:186).

(Lima orikaina), “dou ma ndinga nggahi rawi pahu”. Artinya, orang yang jujur. Orang yang satu kata dengan perbuatannya (tidak hipokrit), karena apa yang telah dikatakan atau yang telah disepakati bersama misalnya, itu pulalah yang akan dilaksanakanbersama secara arif, sehingga menghasilkan suatu yang sangat positif dan konstruktif, ntau pahu. Hal itu dimungkinkan karena ia memiliki kemampuan terutama dalam hal penggunaan kata/kalimat yang secara psikologis dan secara moral dapat mengantarkan dirinya dan orang lain kepada satunya kata dan perbuatan. 
Ungkapan tersebut sesungguhnya merupakan manifestasi dari orang yang kuat imannya (cia imbina) kepada adanya Allah SWT sebagai pencipta alam semesta sekaligus sebagai pelindung dan pemeliharanya. Keimanan seperti itu, harus diyakini dengan hati (kapodaku ba ade), diucapkan dengan lisan (rentaku ba rera/lera) dan diamalkan dengan anggota badan (karawiku ba weki/sarumbu). Ketiga-tiganya harus berjalan secara simultan dan seimbang. Bukan sebaliknya, nggahi wari pahu (hipokrit). Bukan seperti itu. Karena ia yakin bahwa allah SWT sangat marah (benci) kepada orang-orang dengan tipe seperti itu. QS. As-Saf, 61: 1-2, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan (sesuatu) apa yang kamu tidak perbuat. Amat besar kebencian di hadirat Allah SWT (apabila) kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

(Ini orikaina), “dou ma taho hid’i” atau “londo dou ma taho”. Artinya, orang yang memiliki integritas kepribadian yang kokoh-kuat dan berwibawa. Dedikasinya tinggi serta loyal akan perjuangan, menegakkan keadilan dan kebenaran. Jadi, taho hid’i disini, bukan pada penampakan fisik kejasmaniannya yang tampan, cantik, dan/atau gagah saja. Bukan itu, itu belum cukup. Tetapi yang sangat penting pada aspek integritas kepribadian yang sidik (jujur), tidak bohong, amanah (dapat dipercaya), tidak khianat, tabaliq (transparan dan komunikatif) tidak sembunyi-sembunyi, serta fatonah (cerdas dan kreatif), tidak bohong/dungu, sedemikian rupa, sehingga menampakkan pribadi manusia seutuhnya: proporsional dan harmonis. Harmonis antara fisik-kejasmanian dan psikhis-kerohanian, secara sempurna. Atau meminjam istilah dalam tasawuf, ia menjadi “insan kamil”, yaitu manusia yang selalu dalam “proses menjadi” sempurna. 
Jadi “dou ma taho hid’i” atau “londo dou ma taho”. Artinya orang yang seimbang antara struktur tubuhnya yang gagah (pria) atau cantik (wanita) dan berakhlak baik/akhlakul karimah. 

(Pidu orikaina), “dou ma d’i woha dou”. Artinya, orang yang selalu merasa terpanggil untuk mengambil tanggung jawab, ditengah-tengah komunitasnya, baik ditingkat lokal, memiliki akses tingkat nasional, dan syukur-syukur di tingkat Internasional. Dan karenanya, ia selalu dekat di hati rakyat, ia selalu dicintai rakyatnya. Dengan demikian, ia selalu unggul dalam setiap kegiatan yang bersifat kompetitif dan yang melibatkan orang banyak (publik). Betapa tidak, karena ia selalu hadir di tengah-tengah publik, baik dikala suka maupun dikala duka, dengan tidak membeda-bedakan status sosial; kaya-miskin, orang kota-orang gunung, bangsawan-budak (ada dou). Ia berkeyakinan bahwa kesusahan, penderitaan orang lain, adalah peluang baginya untuk beribadah kepada Allah SWT, dengan cara memudahkan urusan sedemikian rupa, sehingga orang itu merasa berbahagia berada di sampingnya. 


(Waru orikaina), “dou ma ntau ro wara”. Artinya, orang yang memiliki kekayaan (maksudnya, bukan hanya memiliki kekayaan bersifat materi-kebendaan saja, tetapi yang penting, kaya rokhani), sehingga tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang bersifat materi. Betapapun ia menghajatkannya. Atau menurut ungkapan yang populer di era roformasi dewasa ini, ia tidak mau melakukan KKN alias Kuku Keko Ndimba (istilah lokal). Betapapun ia menghajatkan materi-uang, karena sangat bertentangan dengan hati nuraninya, bertentangan dengan sifat-sifat yang terpuji seperti yang tersebutkan di atas. Jadi, dia sudah merasa kaya secara rokhaniah maupun secara moral. Dengan demikian, ia mampu menilai bahwa sebuah benda yang berharga itu, tidak ubahnya ibarat sebutir batu/kerikil yang berserakan disepanjang jalan. Ia sama sekali tidak terusik untuk memilikinya melebihi porsi yang diperlukannya. Lagipula, sesuai dengan haknya tidak lebih dari itu.

Tulisan ini disadur oleh Bahtiar Malingi (Dosen IAIN Mataram NTB - Mahasiswa S2 UNY Yogyakarta)dari sebuah buku karangan sesepuh yang nama panggilannya guru melo (Abdul Malik Mahmud Hasan) dengan judul “Ngusu Waru” Sebuah Kriteria Pemimpin Menurut Budaya Lokal Mbojo (Dompu-Bima).

 

Baca Juga :




 
KM. Sanggicu Dompu

KM. Sanggicu Dompu

Koordinator: Abdul Azis Email : ianfahrizi11@gmail.com / azisian848@yahoo.com Hp: 087866925076 Link Komunitas: http//www.kampung-media.com/sanggicudompu

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan